IDXChannel - Arah pergerakan rupiah menjadi perhatian utama menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 22-23 September 2026, setelah Federal Reserve (The Fed) mengerek suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke level 3,75 persen-4,00 persen.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai BI masih akan menahan suku bunga pada RDG September.
Menurut dia, respons BI terhadap tekanan rupiah masih akan mengandalkan intervensi pasar valuta asing (valas) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebelum menggunakan instrumen suku bunga.
"Respons kebijakan BI bergantung pada pergerakan rupiah, dengan hierarki yang sama: intervensi valas dan SRBI terlebih dahulu, yang cepat dan dapat dibalik, sementara kenaikan suku bunga menjadi pilihan terakhir," tulis Rully dalam riset bertajuk September FOMC: Dot Plot Backs Our Terminal Call, Market Still Running Hotter, pada Kamis (17/9/2026).
Menurut Rully, yang berubah belakangan ini adalah komposisi instrumen yang digunakan BI. Lelang SRBI tercatat turun tajam, dari delapan kali pada Juli menjadi tiga kali pada Agustus dan hanya satu kali sepanjang September.
Penurunan frekuensi lelang SRBI tersebut membuat intervensi valas menjadi instrumen yang lebih dominan untuk menjaga stabilitas rupiah.
Mirae Asset memperkirakan BI masih bertahan dengan strategi tersebut pada RDG pekan depan, terutama karena lonjakan dolar AS setelah keputusan The Fed dinilai lebih banyak dipicu oleh pernyataan Ketua The Fed Warsh dibandingkan perubahan proyeksi suku bunga.
The Fed sendiri menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin secara bulat dengan suara 12-0. Sementara itu, median dot plot untuk 2026 dan 2027 tetap berada di 4,125 persen.
Jika disesuaikan dengan konvensi dot plot yang menggunakan titik tengah kisaran suku bunga, angka tersebut setara dengan kisaran 4,00 persen-4,25 persen. Menurut Mirae Asset, level tersebut masih sejalan dengan proyeksi terminal rate sebesar 4,25 persen.
Namun, pasar masih memproyeksikan suku bunga The Fed yang lebih tinggi. Harga kontrak CME untuk Desember 2027 berada di kisaran 4,50 persen-4,75 persen, di atas proyeksi The Fed sebesar 4,00 persen-4,25 persen.
Perbedaan tersebut turut mendorong penguatan dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) mencatat kenaikan harian terbesar sejak pertengahan Juni, sementara imbal hasil US Treasury 10 tahun kembali menyentuh level tertinggi dalam 52 pekan.
Mirae Asset menilai penguatan dolar AS tersebut lebih mencerminkan respons pasar terhadap nada hawkish The Fed ketimbang perubahan fundamental dalam proyeksi suku bunga.
Karena itu, tekanan tersebut diperkirakan dapat mereda ketika positioning pasar kembali menyesuaikan dengan proyeksi suku bunga The Fed yang relatif tidak berubah.
Meski demikian, pergerakan rupiah tetap menjadi faktor penting bagi arah kebijakan BI selanjutnya.
Mirae Asset memperkirakan level Rp17.850-Rp17.900 per USD menjadi batas yang perlu dicermati. Jika rupiah bergerak menuju level tersebut, BI berpotensi kembali mengandalkan SRBI atau mempertimbangkan kenaikan suku bunga.
Mirae Asset masih melihat ruang bagi BI untuk menaikkan suku bunga hingga 6,00 persen apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut. (Aldo Fernando)