"Pelemahan mata uang rupiah kemungkinan masih akan bertahan di atas level 17.000. Itu untuk rupiah," tambahnya.
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada perundingan antara AS dan Iran yang difasilitasi oleh Pakistan. Ibrahim memaparkan dua skenario yang akan berdampak langsung pada harga minyak dan inflasi.
Jika jeda perang selama dua minggu tercapai, harga minyak diprediksi turun yang kemudian akan meredam inflasi. Hal ini membuka peluang bagi Bank Sentral AS (The Fed) untuk menurunkan suku bunga, yang menjadi sentimen positif bagi harga emas.
Jika negosiasi gagal, potensi perang terbuka di Terusan Suez dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran akan memicu lonjakan harga minyak mentah dan emas secara bersamaan.
"Kalau perangnya masih menggunakan misil, kemudian Iran masih menutup Selat Hormuz, ini akan membuat transportasi minyak tersendat sehingga harga minyak naik, dolar menguat, dan berdampak terhadap inflasi," kata Ibrahim.