“AS mengisyaratkan pembicaraan positif dengan Venezuela, setelah Presiden AS mengatakan ia berbicara pada hari Kamis sebelumnya dengan pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, dan menggambarkan panggilan tersebut sebagai sangat positif,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti kondisi kelas menengah Indonesia yang menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi namun kini tengah tertekan. Kelompok ini mulai bergeser menjadi kelompok rentan, sehingga memerlukan stimulus tambahan guna menjaga daya beli di tengah gejolak ekonomi global.
Berdasarkan analisis teknikal dan fundamental tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah masih akan bergerak fluktuatif dan berisiko ditutup melemah pada rentang Rp16.840 hingga Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan selanjutnya.
Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh aksi jual aset domestik oleh investor asing. Bank Indonesia mencatat terjadi aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia sebesar Rp7,71 triliun sepanjang periode 12–14 Januari 2026.
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, merinci bahwa pelepasan aset tersebut didominasi oleh pasar Surat Berharga Negara (SBN).