Dia menyebut, lembaga pemeringkat internasional seperti S&P dan Moody’s juga memberikan catatan terhadap implementasi kebijakan tersebut karena berpotensi memengaruhi arus modal asing.
“Ini membuat masalah tersendiri sehingga wajar arus modal asing keluar dari Indonesia. Ini yang membuat Rupiah melemah dalam perdagangan hari ini,” ujar Ibrahim.
Selain faktor domestik, pergerakan rupiah turut dibebani sentimen eksternal seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian global mendorong investor mengalihkan aset ke instrumen safe haven, yang pada akhirnya menopang penguatan dolar AS.
Kombinasi sentimen domestik dan tekanan global diperkirakan masih akan membayangi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.790 hingga Rp17.850 per USD.
(DESI ANGRIANI)