"Jadi ada arus modal yang keluar, itu penyebabnya ada beberapa, termasuk fundamental domestiknya, banyak yang menganalisa ini konsistensi dari kebijakan, dan ketidakpastian dari berbagai pengumuman kebijakan," ujarnya dalam Webinar OJK Institute, Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Pelemahan rupiah memang terlihat nyata di pasar. Pada perdagangan Kamis (19/2/2026), dolar AS diperdagangkan mendekati Rp17 ribu dengan kisaran sekitar Rp16.903, melanjutkan tren tekanan dari hari sebelumnya ketika rupiah ditutup di sekitar Rp16.884 per USD setelah melemah dari posisi Rp16.837.
Mari Elka menegaskan, ketika mata uang negara berkembang lain relatif stabil atau menguat sementara rupiah melemah lebih dalam, kondisi itu biasanya menunjukkan kombinasi tekanan eksternal dan faktor domestik.
Faktor global seperti ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian geopolitik memang berpengaruh, tetapi respons pasar terhadap kebijakan dalam negeri juga menentukan. Dia menyebut banyak analis menyoroti konsistensi arah kebijakan dan kejelasan komunikasi pemerintah sebagai faktor yang memengaruhi keputusan investor.