"Karena isu confidence itu paling sensitif kepada investor, terutama yang terpengaruh itu kalau kita bilang dari portfolio investment jadi dari pasar modal, obligasi, memang angkanya menunjukkan banyak asing yang keluar," kata dia.
Menurutnya, pemulihan kepercayaan dapat dicapai apabila reformasi pasar modal dijalankan secara nyata, terutama dalam meningkatkan transparansi, likuiditas, dan kepastian aturan.
Dia mengungkapkan, kebijakan tidak harus langsung sempurna, namun arah yang jelas dan konsisten akan memberikan sinyal positif bagi pasar. Momentum kuartal I-2026 disebut penting karena investor global sedang sensitif terhadap perubahan kebijakan negara berkembang.
"Nah ini apakah karena faktor mereka dapat return di tempat lain atau memang karena dia melihat risiko meningkat di Indonesia. Maka dari itu sangat penting untuk kita kembalikan confidence dan itu bisa sangat mungkin kalau benar-benar reformasi pasar modal bisa dilakukan," kata Mari Elka.
Secara keseluruhan, dia menyebut pelemahan rupiah saat ini mencerminkan dinamika kompleks antara kondisi global dan persepsi risiko domestik. Surplus perdagangan belum cukup untuk menopang kurs jika arus modal keluar masih berlanjut.
Karena itu, selain stabilisasi moneter, penguatan kredibilitas kebijakan dan reformasi struktural dinilai menjadi kunci utama untuk menahan tekanan terhadap nilai tukar.
"Saya rasa reformasi pasar modal ini ini penting sekali untuk terjadi di kuartal I tahun ini. Kemudian kepastian hukum dan konsistensi kebijakan, tidak perlu sempurna, yang penting itu arah, karena tidak mungkin kita selesaikan dalam waktu singkat," ujarnya.
(Dhera Arizona)