IDXChannel - Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu menilai pelemahan rupiah yang terjadi beberapa waktu terakhir mencerminkan tekanan pada neraca pembayaran Indonesia akibat arus modal keluar. Artinya, bukan semata-mata dipicu oleh faktor global.
Mari Elka mengatakan, tekanan berasal dari net capital outflow, terutama dari investasi portofolio di pasar saham dan obligasi.
Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), aliran modal keluar asing tembus Rp7,71 triliun pada pekan kedua Januari. Selain itu, aliran modal asing keluar dari pasar sekuritas rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp2,64 triliun, dan pasar surat berharga negara (SBN) Rp8,15 triliun.
Mari Elka menegaskan, kepercayaan investor merupakan faktor paling sensitif dalam menentukan arah aliran modal, sehingga konsistensi kebijakan dan kepastian regulasi menjadi sangat krusial.
"Jadi ada arus modal yang keluar, itu penyebabnya ada beberapa, termasuk fundamental domestiknya, banyak yang menganalisa ini konsistensi dari kebijakan, dan ketidakpastian dari berbagai pengumuman kebijakan," ujarnya dalam Webinar OJK Institute, Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Pelemahan rupiah memang terlihat nyata di pasar. Pada perdagangan Kamis (19/2/2026), dolar AS diperdagangkan mendekati Rp17 ribu dengan kisaran sekitar Rp16.903, melanjutkan tren tekanan dari hari sebelumnya ketika rupiah ditutup di sekitar Rp16.884 per USD setelah melemah dari posisi Rp16.837.
Mari Elka menegaskan, ketika mata uang negara berkembang lain relatif stabil atau menguat sementara rupiah melemah lebih dalam, kondisi itu biasanya menunjukkan kombinasi tekanan eksternal dan faktor domestik.
Faktor global seperti ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian geopolitik memang berpengaruh, tetapi respons pasar terhadap kebijakan dalam negeri juga menentukan. Dia menyebut banyak analis menyoroti konsistensi arah kebijakan dan kejelasan komunikasi pemerintah sebagai faktor yang memengaruhi keputusan investor.
"Karena isu confidence itu paling sensitif kepada investor, terutama yang terpengaruh itu kalau kita bilang dari portfolio investment jadi dari pasar modal, obligasi, memang angkanya menunjukkan banyak asing yang keluar," kata dia.
Menurutnya, pemulihan kepercayaan dapat dicapai apabila reformasi pasar modal dijalankan secara nyata, terutama dalam meningkatkan transparansi, likuiditas, dan kepastian aturan.
Dia mengungkapkan, kebijakan tidak harus langsung sempurna, namun arah yang jelas dan konsisten akan memberikan sinyal positif bagi pasar. Momentum kuartal I-2026 disebut penting karena investor global sedang sensitif terhadap perubahan kebijakan negara berkembang.
"Nah ini apakah karena faktor mereka dapat return di tempat lain atau memang karena dia melihat risiko meningkat di Indonesia. Maka dari itu sangat penting untuk kita kembalikan confidence dan itu bisa sangat mungkin kalau benar-benar reformasi pasar modal bisa dilakukan," kata Mari Elka.
Secara keseluruhan, dia menyebut pelemahan rupiah saat ini mencerminkan dinamika kompleks antara kondisi global dan persepsi risiko domestik. Surplus perdagangan belum cukup untuk menopang kurs jika arus modal keluar masih berlanjut.
Karena itu, selain stabilisasi moneter, penguatan kredibilitas kebijakan dan reformasi struktural dinilai menjadi kunci utama untuk menahan tekanan terhadap nilai tukar.
"Saya rasa reformasi pasar modal ini ini penting sekali untuk terjadi di kuartal I tahun ini. Kemudian kepastian hukum dan konsistensi kebijakan, tidak perlu sempurna, yang penting itu arah, karena tidak mungkin kita selesaikan dalam waktu singkat," ujarnya.
(Dhera Arizona)