Secara geografis, pertumbuhan penjualan di luar Pulau Jawa menjadi yang paling tinggi. Pendapatan dari wilayah tersebut meningkat 16,2 persen secara QoQ dan melonjak 123 persen secara YoY menjadi Rp364 miliar.
Kontribusinya terhadap total pendapatan juga naik menjadi 33,6 persen dari sebelumnya 26,4 persen pada kuartal II-2025.
Meski demikian, profitabilitas mulai menghadapi tekanan.
Margin laba kotor turun menjadi 48,6 persen, turun 3,3 poin persentase dibanding kuartal sebelumnya dan 4,2 poin persentase secara tahunan. Ini menjadi kali pertama margin bruto berada di bawah level 50 persen sejak kuartal III-2024.
Menurut Wilbert, penurunan margin dipicu oleh meningkatnya kontribusi bisnis makanan dan minuman yang memiliki margin lebih rendah, pelemahan margin di kedua segmen usaha, serta kenaikan biaya bahan baku berbasis minyak dan biaya kemasan.
Di sisi lain, margin laba operasional (EBIT) masih mampu bertahan di level 30,8 persen berkat penurunan tajam beban administrasi dan umum sekitar 30 persen secara tahunan.