IDXChannel - Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terpantau diakumulasi investor asing dalam tiga hari terakhir. Meningkatnya minat asing seiring kinerja Bank Mandiri tahun 2025 yang di atas ekspektasi.
Sepanjang 4-6 Februari 2026, saham BMRI diborong investor asing dengan nilai pembelian bersih (net buy) sebesar Rp1,38 triliun. Sejalan dengan data tersebut, saham BMRI naik 4,55 persen ke level Rp5.050, sehingga membuat saham BUMN itu rebound cepat usai tertekan sentimen MSCI beberapa waktu lalu.
Bank Mandiri membukukan laba bersih sebesar Rp56,3 triliun pada 2025, naik tipis dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp55,8 triliun. Setelah terkoreksi pada sembilan bulan awal, laba Bank Mandiri pada kuartal IV-2025 melonjak tajam hingga 35 persen menjadi Rp18,6 triliun.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan mengatakan, kinerja positif perseroan ditopang oleh penyaluran kredit yang mencapai Rp1.895 triliun, tumbuh 13,4 persen dibandingkan tahun 2024.
Riduan mengatakan, pendapatan bunga bersih menyentuh Rp106 triliun, seiring pengelolaan aset produktif dan struktur pendanaan yang tetap solid. Selain itu, pendapatan nonbunga juga ikut menyumbang top line sebesar Rp48,5 triliun, tumbuh 14,5 persen.
"Pengelolaan kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas Bank Mandiri kami jaga secara disiplin dan terukur sebagai fondasi utama pertumbuhan jangka panjang. Dengan struktur pendanaan yang sehat, kualitas pembiayaan yang terjaga, serta diversifikasi sumber pendapatan yang terus diperkuat, Bank Mandiri berada pada posisi yang solid untuk melanjutkan peran intermediasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi Tanah Air," katanya.
Sementara itu, Investment Analyst Lead Stockbit, Edi Chandren menilai, Bank Mandiri mencatat kinerja solid di semua lini. Dia menyoroti pendapatan bunga dan nonbunga yang tumbuh dua digit, beban operasional yang rendah setelah naik tinggi pada sembilan bulan pertama, serta beban provisi yang minim.
Pertumbuhan nonbunga ditopang oleh kenaikan cash recovery (+43 persen) dan nondigital recurring fee (+57 persen). Adapun beban operasional tercatat tumbuh 15 persen, di bawah guidance manajemen sebesar 25 persen. Kontrol biaya ini merupakan hasil dari efisiensi yang dilakukan pada kuartal IV.
Selain itu, Edi juga menyoroti beban provisi yang turun 5 persen, merefleksikan biaya kredit sebesar 0,6 persen lebih rendah dari guidance manajemen. Hal ini imbas penyesuaian metodologi terkait provisioning dalam rangka menajamkan standar loan underwriting.
Laba bersih Bank Mandiri pada 2025 tumbuh 1 persen menjadi Rp56,3 triliun, jauh melampaui ekspektasi konsensus yang memperkirakan laba turun 8 persen. Penyaluran kredit juga melesat 13 persen imbas pinjaman untuk program Koperasi Desa Merah Putih. Tanpa pinjaman ini, pertumbuhan kredit hanya 9 persen.
"BMRI merupakan salah satu top pick (pilihan utama) kami di sektor perbankan," kata Edi.
Kinerja solid Bank Mandiri kembali menarik minat investor asing untuk kembali memborong saham BMRI. Meski kembali diakumulasi, sejak awal 2026, investor asing masih mencatat jual bersih (net sell) sebesar Rp3,53 triliun.
Berdasarkan data Morningstar per 31 Desember 2025, investor institusi asing yang mengoleksi saham BMRI yakni Harris Associates L.P. (1,72 persen), Vanguard Group Inc (1,56 persen), dan GCQ Partners LLC (1,10 persen), Blackrock Fund Advisors (0,86 persen), dan Lazard Asset Management LLC (0,44 persen).
(Rahmat Fiansyah)