“Di tengah kinerja yang tetap solid dari BCA, tekanan terhadap valuasi memang membuat adanya diskoneksi antara fundamental dan harga. Namun BCA tidak tinggal diam, untuk memberikan sinyal kuat bahwa harga sahamnya undervalued dan prospek positif, mereka menjalankan buyback,” ujar Venny.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, BCA telah memulai program pembelian kembali saham sejak 28 April 2026. Program buyback itu akan berlangsung hingga 11 Maret 2027 dengan total anggaran maksimal Rp5 triliun.
Menurut Venny, aksi buyback tersebut dapat menjadi penyangga (buffer) ketika tekanan jual meningkat di pasar, khususnya akibat sentimen global dan arus keluar dana asing.
Kehadiran emiten sebagai pembeli di pasar dinilai dapat membantu menjaga stabilitas harga saham.
“Ini menunjukkan komitmen BCA untuk hadir di market dan tetap fokus pada investor, dan mereka tidak tinggal diam. Aksi korporasi lain yang seharusnya ditangkap secara positif adalah pembagian dividen secara kuartalan,” imbuh dia.