IDXChannel – Sejumlah saham berkapitalisasi besar (big cap) menjadi beban utama (top laggard) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan ini.
IHSG tercatat turun 0,99 persen ke level 7.026,78 dalam sepekan, setelah melemah selama tiga hari perdagangan dan hanya menguat satu kali. Pekan ini juga berlangsung lebih singkat karena libur memperingati Jumat Agung.
Tekanan terdalam datang dari saham-saham yang memiliki bobot besar dalam indeks.
Dari kelompok konglomerasi, Grup Barito melalui PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) anjlol 13,12 persen sepekan ke Rp4.800 per unit dengan kontribusi negatif 26,78 poin terhadap IHSG.
Saham milik taipan batu bara Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), bahkan melemah 13,59 persen sepekan ke Rp10.650 per unit dan menekan indeks sebesar 26,67 poin.
Selanjutnya, Grup Sinarmas melalui PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) turun 6,56 persen sepekan dengan kontribusi negatif 7,42 poin terhadap IHSG.
Dari Grup Salim, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melemah 3,09 persen dan mengurangi indeks sebesar 4,56 poin.
Sementara CT Corp melalui PT Bank Mega Tbk (MEGA) turun 9,38 persen dengan kontribusi negatif 4,87 poin.
Tekanan juga datang dari sektor perbankan besar yang selama ini menjadi penopang tradisional IHSG.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 2,92 persen dengan kontribusi negatif 15,72 poin, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 1,87 persen menekan 11,98 poin.
Kemudian, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 2,31 persen mengurangi 8,58 poin, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turun 5,13 persen dengan kontribusi negatif 6,51 poin terhadap indeks.
Di sisi aliran dana, investor asing tercatat melakukan jual bersih (net sell) Rp2,88 triliun di pasar reguler selama sepekan.
Secara umum, sentimen negatif dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi sinyal serangan militer lanjutan terhadap Iran, yang kembali memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Pernyataan tersebut menekan pasar saham Asia dan mendorong harga minyak melonjak.
Dalam pidatonya, seperti dilansir Dow Jones Newswires, Trump mengatakan AS akan menyerang Iran secara keras dalam dua hingga tiga pekan ke depan, sehingga meningkatkan kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Analis Nomura menyarankan investor berhati-hati terhadap saham di India serta, dalam tingkat lebih ringan, Indonesia dan Filipina karena risiko terhadap pertumbuhan dan laba perusahaan meningkat.
Sebaliknya, pasar Malaysia, Hong Kong, dan China dinilai relatif lebih tangguh menghadapi gejolak eksternal.
Sementara itu, BRI Danareksa menilai situasi ini menciptakan sinyal campuran yang meningkatkan ketidakpastian arah konflik dan pergerakan pasar ke depan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.