Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman November di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup naik 1,61 persen menjadi 4.973 ringgit Malaysia per ton, setelah sebelumnya sempat melonjak lebih dari 2 persen.
Penguatan tersebut memperpanjang kenaikan untuk dua sesi perdagangan berturut-turut.
Kepala Riset Komoditas Sunvin Group, Anilkumar Bagani, mengatakan penguatan CPO terjadi setelah harga minyak kedelai di Chicago serta kontrak olein sawit dan minyak kedelai di China bergerak naik selama perdagangan Asia.
Kenaikan harga energi turut memperkuat sentimen pasar.
“Pasar juga diuntungkan oleh pelebaran diskon harga minyak sawit terhadap gasoil. Saat ini, pasar tampaknya mengabaikan lemahnya ekspor minyak sawit Malaysia pada Agustus serta belum adanya penurunan produksi yang signifikan,” kata Bagani, seperti dikutip Reuters.
Kenaikan harga tersebut terjadi meski data survei kargo menunjukkan perlambatan ekspor minyak sawit Malaysia. Intertek Testing Services memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada Agustus turun 14,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya.