sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Saham Garuda Indonesia (GIAA) Terbang 30 Persen, Intip Analisisnya

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
10/08/2026 15:10 WIB
Saham maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) melonjak sekitar 30 persen pada perdagangan Senin (10/8/2026).
Saham Garuda Indonesia (GIAA) Terbang 30 Persen, Intip Analisisnya. (Foto: Garuda)
Saham Garuda Indonesia (GIAA) Terbang 30 Persen, Intip Analisisnya. (Foto: Garuda)

IDXChannel - Saham maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) melonjak sekitar 30 persen pada perdagangan Senin (10/8/2026), didorong sejumlah sentimen yang dinilai menjadi katalis bagi perseroan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 15.02 WIB, saham GIAA melambung 31,48 persen atau 17 poin ke level Rp71 per saham. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp102,27 miliar.

Saham GIAA bahkan sempat menyentuh batas kenaikan harga atau Auto Rejection Atas (ARA) pada perdagangan hari ini.

Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, Senin (10/8), penguatan saham GIAA terutama didorong oleh dua sentimen utama, yakni perkembangan rencana merger dengan Pelita Air dan penantian investor terhadap laporan keuangan kuartal II 2026.

Manajemen GIAA menyatakan proses merger dengan Pelita Air masih berada dalam tahap kajian dan pembahasan bersama pemegang saham serta pihak-pihak terkait. Kajian dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai aspek strategis.

Manajemen juga mempertimbangkan bagaimana aksi tersebut dapat memperkuat ekosistem penerbangan nasional sekaligus mendukung keberlanjutan agenda transformasi Garuda Indonesia.

Dengan demikian, perkembangan lebih lanjut terkait rencana merger masih menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap saham GIAA.

Selain rencana penggabungan bisnis, investor juga menantikan laporan keuangan Garuda Indonesia untuk kuartal II 2026.

Hingga saat ini, GIAA belum merilis laporan keuangan kuartal II 2026 karena proses audit masih berlangsung. Kinerja kuartal II menjadi perhatian mengingat industri penerbangan masih menghadapi sejumlah tekanan eksternal.

Manajemen mengakui gejolak harga avtur serta dinamika geopolitik global menjadi sejumlah faktor yang membebani industri penerbangan.

Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap struktur biaya operasional dan kinerja keuangan perseroan.

Meski demikian, manajemen menyatakan telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk mengelola dampak dari faktor eksternal tersebut secara terukur.

Investor selanjutnya akan mencermati laporan keuangan kuartal II 2026 untuk melihat sejauh mana tekanan biaya dan kondisi operasional memengaruhi kinerja GIAA sekaligus apakah tren perbaikan yang terlihat pada kuartal I-2026 dapat berlanjut.

Transformasi Jadi Fokus

GIAA mencatat perbaikan kinerja pada kuartal I 2026, seiring pemulihan operasional dan bertambahnya jumlah pesawat yang kembali beroperasi. Manajemen kini melanjutkan proses stabilisasi bisnis dengan fokus pada penguatan armada, efisiensi biaya, perbaikan layanan, serta transformasi bisnis.

Berdasarkan paparan manajemen dalam Surabaya Investor Meeting & Connectivity 2026, pendapatan Garuda Indonesia Group pada kuartal I-2026 mencapai USD762,4 juta, tumbuh 5,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD723,6 juta.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang pendapatan penumpang yang meningkat 8,1 persen menjadi USD608,5 juta.

Di sisi profitabilitas, beban usaha justru turun 0,7 persen menjadi USD713,2 juta. Penurunan terutama berasal dari biaya bahan bakar yang susut 3,7 persen menjadi USD224,7 juta.

Dengan pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan beban, laba usaha Garuda meningkat 47,2 persen menjadi USD46,5 juta.

Perbaikan tersebut turut mempersempit rugi bersih perseroan. Pada kuartal I-2026, Garuda Indonesia membukukan rugi bersih USD41,6 juta, membaik 45,2 persen dibandingkan rugi USD75,9 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. EBITDA juga meningkat 7 persen menjadi USD210,4 juta.

Perbaikan kinerja tersebut berjalan seiring dengan pemulihan operasional.

Jumlah pesawat yang dapat beroperasi atau serviceable fleet Garuda Indonesia Group bertambah enam unit menjadi 102 pesawat pada kuartal I 2026, terdiri dari 60 pesawat Garuda Indonesia dan 42 pesawat Citilink.

Bertambahnya armada yang beroperasi ikut mendorong jumlah penumpang.

Sepanjang kuartal I-2026, Garuda Indonesia Group mengangkut 5,42 juta penumpang, naik 6,76 persen secara tahunan.

Frekuensi penerbangan juga meningkat 5,87 persen menjadi 38.675 penerbangan.

Meski kapasitas yang diukur melalui available seat kilometer (ASK) turun tipis 0,71 persen, tingkat keterisian kursi atau seat load factor (SLF) relatif stabil di 78,07 persen. Sementara itu, passenger yield meningkat 2,49 persen menjadi 7,56 sen dolar AS.

Pemulihan armada masih menjadi salah satu agenda utama Garuda sepanjang 2026.

Perseroan menargetkan tambahan empat Boeing 737-800 pada kuartal II-2026 dan dua Boeing 737-8 hingga akhir tahun. Di sisi lain, satu Airbus A330-200 dijadwalkan dikembalikan pada kuartal II 2026 dan empat Airbus A330-300 milik perseroan ditargetkan dipensiunkan pada akhir tahun.

Pada Citilink, perseroan juga menyiapkan penyesuaian armada dengan rencana mengembalikan satu Airbus A320-200 pada semester I 2026 serta menghentikan operasi lima Boeing 737-300 dan satu Boeing 737-500 hingga akhir tahun.

Selain pemulihan armada, Garuda menempatkan efisiensi dan transformasi bisnis sebagai fokus utama.

Dalam roadmap 2026, perseroan mengusung tema stabilisasi dan basic execution, dengan prioritas pada penguatan kas dan pendanaan, disiplin biaya, penyederhanaan jaringan penerbangan berdasarkan profitabilitas, serta peningkatan serviceability armada.

Sejumlah langkah transformasi juga disiapkan, termasuk strategi harga baru untuk rute internasional, pengembangan produk branded fare, optimalisasi perawatan mesin, peningkatan produktivitas kru, hingga penguatan kanal digital.

Dari sisi layanan, Garuda berencana meningkatkan kualitas makanan di kelas bisnis, menstandarkan layanan makanan di dalam pesawat, memperbarui aksesori kabin, serta menghadirkan konten hiburan dalam penerbangan yang baru.

Perseroan juga menyiapkan implementasi self check-in kiosk dan self bag drop di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

Sementara itu, dari sisi digital dan organisasi, Garuda akan memperkuat kanal digital milik sendiri, membangun kembali arsitektur digital dengan standar industri, serta melakukan penyederhanaan struktur organisasi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement