Pertumbuhan tersebut terutama ditopang pendapatan penumpang yang meningkat 8,1 persen menjadi USD608,5 juta.
Di sisi profitabilitas, beban usaha justru turun 0,7 persen menjadi USD713,2 juta. Penurunan terutama berasal dari biaya bahan bakar yang susut 3,7 persen menjadi USD224,7 juta.
Dengan pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan beban, laba usaha Garuda meningkat 47,2 persen menjadi USD46,5 juta.
Perbaikan tersebut turut mempersempit rugi bersih perseroan. Pada kuartal I-2026, Garuda Indonesia membukukan rugi bersih USD41,6 juta, membaik 45,2 persen dibandingkan rugi USD75,9 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. EBITDA juga meningkat 7 persen menjadi USD210,4 juta.
Perbaikan kinerja tersebut berjalan seiring dengan pemulihan operasional.
Jumlah pesawat yang dapat beroperasi atau serviceable fleet Garuda Indonesia Group bertambah enam unit menjadi 102 pesawat pada kuartal I 2026, terdiri dari 60 pesawat Garuda Indonesia dan 42 pesawat Citilink.