sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Saham MORA ARB Berjilid-jilid usai Pengumuman Merger dengan MyRepublic

Market news editor Rahmat Fiansyah
05/02/2026 18:20 WIB
Saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk atau Moratelindo (MORA) tertekan di tengah proses merger dengan PT Eka Mas Republik.
Saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk atau Moratelindo (MORA) tertekan di tengah proses merger dengan PT Eka Mas Republik. (Foto: Freepik)
Saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk atau Moratelindo (MORA) tertekan di tengah proses merger dengan PT Eka Mas Republik. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk atau Moratelindo (MORA) tertekan di tengah proses merger dengan PT Eka Mas Republik (EMR) milik Sinarmas Group yang merupakan penyedia jasa internet dengan merek MyRepublic.

Berdasarkan catatan IDX Channel,  saham MORA turun 63 persen ke harga Rp6.125 dari level tertinggi di level Rp16.725. Penurunan ini terjadi cukup cepat dengan menyentuh batas auto reject bawah (ARB) selama empat hari berturut-turut (2-5 Februari 2026).

Namun, koreksi pada MORA terjadi setelah saham tersebut reli cukup panjang. Dihitung dari harga terendahnya Rp374 dalam enam bulan terakhir, harga saham MORA naik lebih dari 4.300 persen ke harga tertinggi, sebelum akhirnya turun tajam.

Direktur Utama Moratelindo, Jimmy Kadir menjelaskan bahwa, bagi perseroan, merger dengan MyRepublic akan memperluas cakupan dan jaringan kapasitas infrastruktur kepara para pelanggan, khususnya jaringan fiber-to-the-home (FTTH) dan enterprise.

"MORA bisa memasarkan produk-produk enterprise kepada calon pelanggan yang ada di jaringan FTTH EMR," katanya.

Sementara bagi EMR, MyRepublic bisa memperoleh akses langsung terhadap infrastruktur backbone berkapasitas besar dan andal milik Moratelindo. Dengan begitu, pelanggan ritel dapat memperoleh jaringan yang lebih stabil dengan latensi rendah dan konsistensi tinggi.

Merger, menurut Jimmy, juga akan memperkuat sinergi finansial di samping operasional. Perseroan akan memiliki biaya yang lebih efisien sekaligus bisa mendongkrak pendapatan lewat bundling layanan dan cross-selling yang ujungnya akan membuat profitabilitas meningkat.

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta menilai, Moratelindo dengan merek MyRepublic dengan Oxygen akan menjadi kompetitor serius di industri FTTH. Di segmen ini, pemain lainnya yakni PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) lewat Starlite dan PT Remala Abadi Tbk (DATA) lewat NetHome.

Menurut Kafi, penetrasi segmen Fixed Broadband (FBB) ke depan akan semain masif setelah stagnan dalam tiga tahun terakhir. Dia memperkirakan porsi  FBB bisa mencapai 41 persen pada 2026 dari 24 persen pada 2025.

"Akselerasi ini akan ditopang oleh tiga pendorong utama. pertama, terbukanya akses FWA 1,4 Ghz yang dioperasikan oleh WIFI dan MyRepublic, kedua penetapan harga yang mendisrupsi pasar, terutama dari WIFI dan DATA dengan rentang Rp100-Rp116 ribu, dan adopsi FiberCo yang bakal terbuka," katanya dalam riset akhir Januari 2026.

Menurut Kafa, WIFI dan MyRepublic akan memperoleh benefit dari rencana InfraCo yang akan membuka aksesnya kepada pihak ketiga. Namun, hal ini bukannya tanpa risiko mengingat perang harga kemungkinan besar akan terjadi sejalan dengan perluasan akses FBB kepada pelanggan.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement