Sementara bagi EMR, MyRepublic bisa memperoleh akses langsung terhadap infrastruktur backbone berkapasitas besar dan andal milik Moratelindo. Dengan begitu, pelanggan ritel dapat memperoleh jaringan yang lebih stabil dengan latensi rendah dan konsistensi tinggi.
Merger, menurut Jimmy, juga akan memperkuat sinergi finansial di samping operasional. Perseroan akan memiliki biaya yang lebih efisien sekaligus bisa mendongkrak pendapatan lewat bundling layanan dan cross-selling yang ujungnya akan membuat profitabilitas meningkat.
Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta menilai, Moratelindo dengan merek MyRepublic dengan Oxygen akan menjadi kompetitor serius di industri FTTH. Di segmen ini, pemain lainnya yakni PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) lewat Starlite dan PT Remala Abadi Tbk (DATA) lewat NetHome.
Menurut Kafi, penetrasi segmen Fixed Broadband (FBB) ke depan akan semain masif setelah stagnan dalam tiga tahun terakhir. Dia memperkirakan porsi FBB bisa mencapai 41 persen pada 2026 dari 24 persen pada 2025.
"Akselerasi ini akan ditopang oleh tiga pendorong utama. pertama, terbukanya akses FWA 1,4 Ghz yang dioperasikan oleh WIFI dan MyRepublic, kedua penetapan harga yang mendisrupsi pasar, terutama dari WIFI dan DATA dengan rentang Rp100-Rp116 ribu, dan adopsi FiberCo yang bakal terbuka," katanya dalam riset akhir Januari 2026.