Dalam empat pekan terakhir, harga nikel menguat 12,86 persen, sementara dalam 12 bulan terakhir tercatat naik 10,16 persen.
Mengutip Trading Economics, Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar dunia, mengusulkan pengurangan produksi nikel sebesar 34 persen dalam anggaran 2026.
Langkah ini ditempuh untuk merespons kekhawatiran atas kelebihan pasokan serta peringatan dari pelaku tambang terkait penurunan kadar bijih.
Kebijakan tersebut menjadi upaya terbaru untuk menekan surplus, menyusul ekspansi besar-besaran sektor nikel setelah Indonesia melarang ekspor bijih pada 2020.
Selain itu, pemerintah Indonesia juga berencana merevisi formula harga acuan bijih nikel, termasuk kemungkinan memisahkan produk sampingan seperti kobalt serta menerapkan royalti. Kebijakan ini berpotensi semakin memperketat pasokan.