IDXChannel – Saham-saham yang terlibat dalam proyek waste-to-energy (WTE) Danantara melonjak pada Senin (19/1/2026) seiring masuknya inisiatif ini ke fase krusial pada awal 2026.
BRI Danareksa Sekuritas menyebut, Senin (19/1), Danantara dijadwalkan mengumumkan pemenang tender WTE batch pertama pada akhir Januari 2026.
Proses tender sendiri telah dimulai sejak November 2025 dan mencakup proyek di sekitar empat hingga tujuh kota, antara lain Bogor, Bekasi, Denpasar, Yogyakarta, Tangerang, Semarang, dan Medan.
Sebanyak 24 perusahaan, yang mayoritas berasal dari luar negeri, tercatat mengikuti tender tersebut dan diwajibkan menggandeng mitra lokal dalam pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Setelah pengumuman pemenang, tahapan berikutnya adalah penandatanganan perjanjian kerja sama, baik dalam bentuk joint venture maupun power purchase agreement (PPA), yang ditargetkan berlangsung pada akhir Februari 2026.
Selanjutnya, proyek WTE batch pertama ini diharapkan memasuki tahap peletakan batu pertama atau groundbreaking pada Maret hingga April 2026.
Dalam catatan BRI Danareksa, sejumlah emiten domestik saat ini telah memiliki eksposur terhadap bisnis pembangkit listrik dari sampah.
Di antaranya adalah PT Astrindo Nusantara Infrastructure Tbk (BIPI), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), serta PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA).
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.38 WIB, saham OASA melonjak 24,10 persen ke Rp484 per unit, PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI) melambung 18,49 persen ke posisi Rp284 per unit, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) melesat 9,15 persen menjadi Rp895 per unit.
Kemudian, SOFA mendaki 8,89 persen ke Rp490 per unit, IMPC naik tipis 0,60 persen. Sementara, BIPI masih disuspensi oleh bursa.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai sentimen seputar Danantara masih lebih banyak digerakkan oleh persepsi pasar ketimbang kepastian kontrak.
“Seperti yang kita ketahui, salah satu project utama Danantara adalah pengelolaan sampah yang menjadi problem sudah bertahun-tahun,” ujar Michael, Senin (19/1).
Namun demikian, ia menegaskan hingga saat ini belum ada kepastian mengenai pihak yang akan mendapatkan kontrak tersebut. “Karena belum ada company yang resmi mendapatkan hal tersebut,” imbu dia.
Dari sisi teknikal, Michael melihat sejumlah saham mulai menunjukkan pergerakan yang menarik. Untuk OASA, ia menilai sinyal penguatan sudah terlihat jelas.
“OASA memiliki pergerakan yang baik terlihat dari teknikal yang break pola bullish pennant dengan target menuju ke 530, support area di 450,” tutur Michael.
Sementara itu, saham MHKI juga masuk radar pengamatannya. “MHKI juga menarik jika melewati angka 310. Potensi MHKI secara teknikal adalah 400,” kata dia.
Kemudian, Michael juga menyoroti fase konsolidasi TOBA yang dinilai cukup sehat setelah tekanan harga di akhir tahun lalu.
“TOBA memiliki konsolidasi yang baik setelah terkoreksi cukup dalam pada akhir tahun lalu di angka 810,” katanya.
Ia menambahkan, jika TOBA mampu menembus level resistance 975, maka saham tersebut berpeluang bergerak naik dengan target di kisaran 1.100 hingga 1.200. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.