Wilbert menjelaskan, secara aturan umum GOTO sebenarnya masih memenuhi persyaratan likuiditas. Rasio Annualized Traded Value Ratio (ATVR) selama tiga bulan dan 12 bulan masing-masing mencapai 41,3 persen dan 72,8 persen, jauh di atas ambang batas MSCI sebesar 5 persen dan 10 persen.
Namun, MSCI juga memiliki ruang diskresi untuk mempertimbangkan aspek keterulangan transaksi (replicability).
Menurut Wilbert, harga saham yang terus berada di level Rp50 serta ATVR Juli yang hanya sekitar 0,6 persen dapat menjadi dasar bagi MSCI untuk mengambil keputusan di luar pengujian rasio formal.
Selain perubahan komposisi indeks, MSCI juga memperkenalkan metodologi baru berupa Extreme Price Increase (EPI) Screen. Wilbert menilai aturan ini merupakan respons terhadap dugaan praktik perdagangan terkoordinasi pada saham-saham kapitalisasi kecil di Turki.
Meski demikian, dampaknya terhadap Indonesia dalam waktu dekat diperkirakan masih terbatas karena penambahan saham ke indeks maupun kenaikan kelas masih dibekukan. Aturan tersebut baru akan relevan apabila kebijakan freeze dicabut.