Meski demikian, Wilbert menilai dampak tersebut relatif kecil dibandingkan dengan peningkatan kapitalisasi pasar Indonesia sepanjang Juli sehingga diperkirakan dapat diserap pasar.
Dia menambahkan, tantangan utama bagi Indonesia bukan lagi risiko keluarnya dana pasif, melainkan kapan MSCI mencabut kebijakan freeze sehingga bobot Indonesia di MSCI EM dapat kembali meningkat.
"Secara keseluruhan kami tetap konstruktif terhadap prospek pasar saham Indonesia pada semester II-2026 dan memandang pelemahan akibat penyesuaian indeks pada akhir Agustus sebagai peluang akumulasi, meski kepastian penuh baru akan terlihat setelah peninjauan MSCI pada November," tulis Wilbert. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.