Saham-Saham Pariwisata di Asia Rontok Akibat Virus Corona dari China

Market News
Fahmi Abidin
Selasa, 21 Januari 2020 14:30 WIB
Saham perusahaan terkait pariwisata di Asia pada Selasa (21/1/2020) melemah ditengah kekhawatiran adanya virus misterius di China yang sudah membunuh 4 orang.
Saham-Saham Pariwisata di Asia Rontok Akibat Virus Corona dari China. (Foto: Ist)

IDXChannel - Saham-saham perusahaan yang berhubungan dengan pariwisata di kawasan Asia pada Selasa (21/1/2020) melemah ditengah kekhawatiran adanya virus misterius di China yang sudah membunuh empat orang.

Sementara itu, saham maskapai penerbangan di seluruh kawasan Asia terutama China terkena dampaknya akibat virus bernama Corona. Saham China Eastern Airlines dan China Southern Airlines turun 6,2% dan 6,11% dan saham Cathay Pacific turun 4,81%.

Saham Japan Airlines turun 2,97% dan saham ANA turun 2,16% dan saham Qantas turun 1,7%. Sedangkan di Hong Kong saham AIA turun lebih dari 3% dan saham Ping an dan China Life Insurance turun 3,14% dan 4,28%. Kemudian saham operator kasino Wynn Macau juga turun 4,91% dan Melco International Development turun 5,41 %.

Sekadar diketahui, Virus Corona muncul pertama kali di kota Wuhan, China, pada Desember 2019. Kini, jumlah total kasus yang dapat dikonfirmasi melebihi 200 pasien, termasuk tiga di antara mereka meninggal dunia akibat penyakit pernapasan ini.

Pemerintah China juga memastikan pada Senin (20/01) bahwa penularan virus misterius ini dapat terjadi antar manusia. Setidaknya 14 petugas medis yang merawat pasien yang terjangkit virus corona, juga tertular.

Melihat dampak dari peredaran virus Corona tersebut, edaran dari Kemenkes meminta kesiapsiagaan pihak-pihak dinas kesehatan maupun rumah sakit rujukan dalam menghadapi kemungkinan masuknya penyakit itu.

Corona adalah kelompok virus yang menyerang manusia. Enam di antaranya telah diketahui, sebelum kemunculan jaringan terbaru virus itu di Wuhan belakangan ini.

Salah satu tipe dari kelompok virus corona menyebabkan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), yang menjangkiti 8.098 orang di China sejak wabah itu meluas pada 2002. (*)

Baca Juga