sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Saham Sawit (CPO) Menghijau Lagi, PGUN-TAPG Pimpin Reli

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
29/04/2026 09:59 WIB
Saham emiten perkebunan sawit dan produsen crude palm oil (CPO) menguat pada Rabu (29/4/2026), menjaga momentum positif belakangan ini.
Saham Sawit (CPO) Menghijau Lagi, PGUN-TAPG Pimpin Reli. (Foto: Freepik)
Saham Sawit (CPO) Menghijau Lagi, PGUN-TAPG Pimpin Reli. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Saham emiten perkebunan sawit dan produsen crude palm oil (CPO) menguat pada Rabu (29/4/2026), menjaga momentum positif belakangan ini.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.51 WIB, saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) melambung 12,53 persen, disusul PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang melonjak 9,55 persen ke Rp2.170 per unit.

Di bawah kedua nama tersebut, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) yang meningkat 3,39 persen menjadi Rp1.830 per unit, saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) naik 1,78 persen, dan saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) 1,21 persen.

Kemudian, saham SSMS mendaki 1,43 persen, JARR 1,32 persen, AALI 0,31 persen.

Sementara, beberapa sisanya terkoreksi, seperti NSSS yang minus 1,13 persen dan TBLA turun 0,67 persen.

Katalis B50

Momentum kebijakan biodiesel B50 dinilai membuka peluang cuan di sektor CPO pada 2026.

Sejumlah analis menilai, meski kinerja emiten sawit sempat tertekan di awal tahun, prospek harga yang tetap kuat dan potensi pengetatan pasokan global akan menjadi katalis penguatan sektor ke depan.

Indo Premier, dalam riset pada 24 April 2026, mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor ini. Prospek perbaikan kinerja didukung oleh potensi pengetatan pasokan ekspor dari implementasi program biodiesel B50 di Indonesia dan B12 di Malaysia.

Pada kuartal II dan III 2026, laba sektor diproyeksikan pulih masing-masing 41 persen dan 29 persen secara kuartalan, didorong oleh kenaikan harga dan volume penjualan.

TAPG dan DSNG tetap menjadi pilihan utama, dengan preferensi pada TAPG berkat eksposur harga spot yang lebih tinggi, biaya pupuk yang lebih terkendali, serta imbal hasil dividen yang menarik di kisaran 10 persen hingga 12 persen.

Meski prospeknya positif, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, mulai dari percepatan penurunan persediaan, ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, hingga potensi perubahan kebijakan pemerintah.

Pandangan serupa juga disampaikan analis CGS Internasional Sekuritas Indonesia (CGSI) Rut Yesika Simak dan Jacquelyn Yow mempertahankan pandangan positif terhadap sektor perkebunan sawit, seiring prospek harga crude palm oil (CPO) yang dinilai tetap solid pada 2026.

Dalam riset yang terbit 9 April 2026, CGSI mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor ini, dengan proyeksi harga CPO 2026 di level 4.500 ringgit Malaysia per ton.

Kebijakan mandatori biodiesel B50 disebut menjadi faktor kunci yang menopang harga minyak nabati, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.

Dari sisi emiten, CGSI tetap menjagokan DSNG dan TAPG sebagai pilihan utama.

DSNG dinilai menarik berkat prospek pertumbuhan dan implementasi ESG yang solid, sementara TAPG unggul dari sisi imbal hasil serta profil aset perkebunan yang kuat.

Ke depan, potensi kenaikan valuasi sektor dinilai dapat dipicu oleh fenomena El Nino yang berisiko menekan produksi, serta pasokan CPO global yang semakin ketat.

Harga CPO

Harga CPO melemah dalam perdagangan Asia, Rabu (29/4) dipicu meningkatnya produksi serta ekspor yang cenderung menurun.

Dalam risetnya, dikutip Dow Jones Newswires, AmInvestment Bank mencatat permintaan terhadap minyak sawit dan minyak kedelai masih lemah. Pembeli disebut cenderung menahan transaksi untuk kebutuhan jangka pendek, sehingga aktivitas perdagangan menjadi terbatas.

Kondisi ini tidak lepas dari harga yang masih relatif tinggi serta posisi persediaan yang cukup melimpah, terutama setelah pengiriman yang kuat pada Februari. Situasi tersebut membuat urgensi pembelian berkurang.

Dari sisi teknikal, AmInvestment Bank memproyeksikan level resistance CPO berada di kisaran 4.580 ringgit per ton, sementara support di 4.464 ringgit per ton.

Sejalan dengan sentimen tersebut, kontrak CPO Bursa Malaysia untuk pengiriman Juli tercatat turun 40 ringgit menjadi 4.496 ringgit per ton. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement