IDXChannel - Sejumlah saham berkapitalisasi besar di pasar domestik terancam keluar dari indeks MSCI pada rebalancing tahun ini, seiring evaluasi free float dan penerapan aturan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).
Kondisi itu juga berpotensi menekan bobot Indonesia di indeks global MSCI.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, memperkirakan, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berisiko dikeluarkan dari indeks MSCI paling cepat pada rebalancing Mei 2026.
Kedua saham itu dinilai terdampak penerapan perlakuan global MSCI terhadap emiten dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
Selain itu, MSCI juga membuka peluang menggunakan data kepemilikan saham 1 persen terbaru untuk menghitung ulang free float emiten Indonesia. Langkah tersebut dinilai dapat menekan bobot mayoritas saham Indonesia di MSCI.
Mirae memperkirakan beberapa saham lain juga berpotensi terdepak dari indeks karena kapitalisasi pasar berbasis free float tidak lagi memenuhi ambang batas MSCI sebesar USD1,9 miliar atau sekitar Rp33 triliun.
Emiten yang masuk kategori tersebut antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
Tak hanya itu, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga diperkirakan keluar dari indeks MSCI Mei 2026 karena kapitalisasi pasar dinilai tak lagi memenuhi persyaratan.
Di tengah potensi pengurangan free float tersebut, hanya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang diperkirakan relatif tidak terdampak negatif.
“Jika skenario ini terjadi, kami memperkirakan bobot Indonesia di MSCI dapat turun menjadi sekitar 0,6 persen dari posisi saat ini 0,7 persen,” tulis Wilbert dalam riset tertanggal 6 Mei 2026.
Mirae Asset memperkirakan tekanan jual asing masih akan berlanjut setidaknya hingga rebalancing MSCI berikutnya pada Agustus 2026, saat penyesuaian Foreign Inclusion Factor (FIF) mulai berlaku.
Jika penghapusan saham terkait HSC dan penurunan free float terjadi bersamaan, arus keluar dana asing diperkirakan mencapai sekitar USD2,4 miliar atau setara Rp41,76 triliun, baik dari investor aktif maupun pasif. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.