CGSI tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perkebunan Indonesia. Secara valuasi, saham-saham sektor ini dinilai masih menarik dengan rasio price to earnings (PER) sekitar 7,2 kali untuk proyeksi 2026 dan dividend yield sekitar 6,4 persen.
CGSI masih menjagokan TAPG dan DSNG sebagai pilihan utama sektor. DSNG dinilai menarik berkat prospek pertumbuhan, implementasi ESG, dan neraca yang lebih bersih.
Sementara TAPG diunggulkan karena produktivitas kebun dan tingkat ekstraksi minyak sawit yang dinilai tertinggi di antara emiten sejenis, serta profil dividennya yang solid.
Menurut CGSI, sentimen positif sektor ke depan akan datang dari kejelasan implementasi kebijakan ekspor, penguatan harga CPO, permintaan biodiesel B50, dan pasokan ekspor yang semakin ketat.
Risiko utama tetap berasal dari potensi intervensi harga non-pasar, biaya platform tambahan, hingga pengetatan regulasi lanjutan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.