Dia mengatakan, meskipun produk dari China dapat menawarkan harga yang lebih murah, faktor kepastian pasokan, kualitas, dan waktu pengiriman menjadi pertimbangan bagi kontraktor dalam memilih produk. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi ISSP untuk meningkatkan penetrasi produk lokal di tengah pertumbuhan proyek data center di Indonesia.
Pada semester I-2026, ISSP membukukan pendapatan Rp2,84 triliun, tumbuh 8,5 persen secara tahunan. Laba bersih perseroan mencapai Rp240,5 miliar atau tumbuh 12,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perseroan optimistis kinerja pada semester II-2026 akan lebih kuat, ditopang antara lain oleh proyek-proyek yang masih berjalan, termasuk permintaan dari data center dan proyek pipa gas Dusem.
(NIA DEVIYANA)