sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Stabilitas Makro Buka Peluang Selektif, Deretan Saham Ini Bisa Dilirik

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
13/07/2026 06:37 WIB
Stabilitas makroekonomi yang mulai membaik dinilai membuka peluang pemulihan valuasi pasar saham Indonesia pada paruh kedua 2026.
Stabilitas Makro Buka Peluang Selektif, Deretan Saham Ini Bisa Dilirik. (Foto:
Stabilitas Makro Buka Peluang Selektif, Deretan Saham Ini Bisa Dilirik. (Foto:

IDXChannel - Stabilitas makroekonomi yang mulai membaik dinilai membuka peluang pemulihan valuasi pasar saham Indonesia pada paruh kedua 2026.

Kebijakan moneter yang lebih ketat, kemajuan konsolidasi fiskal, serta pelonggaran sejumlah kebijakan di sektor pertambangan diperkirakan dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah sekaligus memperbaiki sentimen investor.

Meski melihat peluang price-to-earnings (PE) re-rating setelah valuasi pasar terkoreksi tajam dalam setahun terakhir, tim analis UBS yang dipimpin Joshua Tanja tetap memangkas target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir 2026 menjadi 7.050 dari sebelumnya 8.150.

Revisi tersebut didasarkan pada penurunan proyeksi laba per saham (EPS) emiten untuk 2027 serta target valuasi yang lebih rendah.

Dalam riset yang diterbitkan pada 8 Juli 2026, UBS menyebut perkembangan makro terbaru berpotensi meredakan tekanan depresiasi rupiah pada semester II-2026.

Kondisi tersebut, menurut UBS, dapat membuka jalan bagi re-rating valuasi pasar setelah forward price-to-earnings (PE) IHSG turun dari sekitar 12 kali menjadi sekitar 8 kali dalam waktu kurang dari setahun.

UBS juga menyoroti mulai bergesernya arus modal asing.

Sepanjang Juni 2026, investor asing mencatat pembelian bersih sekitar Rp44 triliun di instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan obligasi pemerintah, sementara di pasar saham masih terjadi penjualan bersih sekitar Rp28 triliun.

Menurut UBS, terdapat empat perkembangan yang mendukung prospek pasar.

Pertama, Bank Indonesia (BI) dinilai menunjukkan komitmen menjaga stabilitas makro melalui kenaikan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin sejak Mei, sehingga aset rupiah tetap menarik dan tekanan terhadap nilai tukar dapat diredam.

Kedua, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal mulai berkurang setelah pemerintah memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar 32 persen, dengan potensi efisiensi lanjutan pada 2027.

Di saat yang sama, penerimaan negara pada semester I-2026 tumbuh 21 persen secara tahunan, sementara defisit anggaran tercatat 0,7 persen.

Ketiga, pelonggaran sejumlah kebijakan di sektor pertambangan, termasuk terkait sentralisasi ekspor dan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), dinilai dapat memperbaiki iklim investasi.

Keempat, permintaan dolar AS diperkirakan menurun secara musiman pada semester II setelah kebutuhan belanja pemerintah dan pembayaran dividen yang terkonsentrasi pada paruh pertama tahun mereda.

Meski demikian, UBS memangkas target IHSG akhir 2026 menjadi 7.050 dari sebelumnya 8.150.

Target baru tersebut diperoleh menggunakan model Gordon Growth, dengan asumsi imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun sebesar 7,25 persen (sebelumnya 6,75 persen), equity risk premium sebesar 5,5 persen (sebelumnya 5 persen), serta pertumbuhan jangka panjang 7 persen (sebelumnya 7,5 persen).

Asumsi tersebut menghasilkan target forward PE sebesar 9,5 kali, lebih rendah dibandingkan target sebelumnya 10,1 kali, dengan proyeksi laba per saham (EPS) emiten di IHSG tahun 2027 sebesar Rp741, turun dari estimasi sebelumnya Rp803.

UBS tetap memperkirakan pertumbuhan EPS gabungan (CAGR) mencapai 12 persen per tahun sepanjang 2025-2027.

Dari sisi sektoral, UBS masih memilih sektor sumber daya berbasis nikel, aluminium, dan tembaga, serta telekomunikasi dan barang konsumsi pokok.

Sementara, UBS mempertahankan pandangan netral terhadap sektor perbankan, otomotif, barang konsumsi nonprimer, emas, dan batu bara. Kemudian, UBS masih berpandangan negatif terhadap sektor utilitas gas, properti, semen, dan digital.

Di kelompok saham berkapitalisasi besar, UBS menjadikan BBCA, TLKM, dan AMMN sebagai pilihan utama.

UBS juga memperbarui daftar saham favoritnya. BBCA menggantikan BMRI karena dinilai lebih diuntungkan oleh kondisi likuiditas yang ketat, sementara INCO menggantikan ANTM seiring preferensi UBS terhadap prospek nikel dibanding emas.

Di sisi lain, AMMN menggantikan MEDC berkat prospek pertumbuhan laba yang lebih kuat.

UBS mempertahankan ADMR, TLKM, dan CMRY dalam daftar saham paling disukai, sedangkan BBNI menggantikan BFIN sebagai saham yang paling tidak disukai. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement