"Secara internal, kebutuhan impor energi RI yang melebihi 1,5 juta barel per hari saat harga minyak di atas target APBN-P US83 per barel membuat pemerintah harus menambah dolar AS," kata dia.
"Kondisi ini diperparah oleh BPS yang mencatat defisit neraca dagang US1,61 miliar pada Mei 2026—mengakhiri surplus 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020—akibat ekspor turun 5,73 persen menjadi US23,2 miliar sementara impor melonjak 22,16 persen menjadi US24,81 miliar yang didominasi bahan baku dan barang modal," katanya.
Kenaikan impor bahan baku penolong yang mencapai US17,58 miliar (tumbuh 25,17 persen YoY) dan barang modal sebesar US5 miliar (naik 12,7 persen YoY) berpotensi melebarkan defisit neraca transaksi berjalan serta menekan posisi rupiah pada kuartal III-2026.
Kendati dibayangi perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 menjadi sebesar 5,4 persen, pemerintah tetap optimistis laju perekonomian akan membaik pada semester berikutnya.
Mempertimbangkan dinamika fiskal dan tingginya volatilitas pasar keuangan global, kata Ibrahim, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan berada dalam rentang melemah pada perdagangan pekan mendatang.
"Pemerintah optimistis pertumbuhan membaik pada semester II ditopang likuiditas memadai dan fiskal prudent. Namun untuk perdagangan Senin depan, rupiah diprediksi fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.960-Rp18.020 per USD, sedangkan kisaran pekan depan berada di level Rp17.880-Rp18.250 per USD," ujar Ibrahim.
(Dhera Arizona)