"AS resmi memberlakukan tarif impor baru 10 persen dan 12,5 persen terhadap 60 mitra dagang termasuk Indonesia usai berakhirnya tarif sementara 150 hari. Eskalasi militer juga meningkat setelah Houthi menyerang dua tanker Saudi di Laut Merah yang direspons ancaman Trump ke Iran, sementara Kazakhstan memangkas produksi minyak akibat serangan drone Ukraina ke terminal Laut Hitam," ujarnya dalam keterangannya, Jumat (24/7/2026).
Pemerintah AS menekankan penetapan tarif baru tersebut merupakan instrumen dorongan agar negara mitra memperketat larangan produk berbasis kerja paksa.
Ketegangan di sektor energi internasional tersebut kian diperberat oleh indikasi kuatnya perekonomian Amerika Serikat berdasarkan data tenaga kerja terbaru. Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar bahwa bank sentral Federal Reserve bakal mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
"Klaim pengangguran awal AS secara tak terduga turun ke 187.000 yang merupakan level terendah dalam beberapa dekade, sehingga mendorong imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun ke level tertinggi sejak Januari 2025. Data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan ini menambah kekhawatiran bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan sikap kebijakan yang restriktif," ujar Ibrahim.
Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah membengkak seiring tingginya kebutuhan impor energi nasional yang melampaui asumsi anggaran negara. Beban fiskal tersebut kian diperberat oleh defisit neraca perdagangan pertama kali dalam enam tahun terakhir akibat pembengkakan impor bahan baku industri.