IDXChannel – Saham PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) melesat lebih dari 10 persen pada perdagangan Selasa (22/9/2026), setelah emiten batu bara tersebut mengumumkan rencana pembagian dividen interim jumbo senilai USD60 juta.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.36 WIB, saham BSSR mendaki 10,77 persen ke level Rp5.450 per unit.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp37,98 miliar dengan volume perdagangan 7,09 juta saham.
BSSR akan membagikan dividen interim tahun buku 2026 sebesar USD60 juta.
Berdasarkan perhitungan Stockbit Sekuritas, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp406,2 per saham dan mengindikasikan dividend yield sekitar 8,3 persen berdasarkan harga penutupan BSSR pada Senin (21/9).
Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 29 September 2026, sedangkan pembayaran dividen dijadwalkan pada 9 Oktober 2026.
Pembagian dividen jumbo tersebut datang di tengah kinerja keuangan BSSR yang masih tumbuh.
Pada semester I-2026, perseroan membukukan penjualan sebesar USD361,1 juta, naik 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD326,4 juta.
Laba bersih BSSR juga meningkat 27 persen menjadi USD63 juta atau sekitar Rp1,1 triliun.
Dari sisi operasional, BSSR mengandalkan kegiatan produksi batu bara melalui dua wilayah tambang utama, yakni konsesi BSSR di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, serta anak usahanya, PT Antang Gunung Meratus (AGM), di Kalimantan Selatan.
Mengutip materi public expose Juni 2026, BSSR memiliki konsesi seluas 2.472,41 hektare di Kutai Kartanegara dengan produksi batu bara berkalori GAR 3.400 dan GAR 4.100.
Logistik batu bara dari pit menuju pelabuhan menggunakan jalan hauling sepanjang 24 kilometer dengan truk. Selanjutnya, batu bara dikirim dari Port Bukungan menuju laut lepas menggunakan tongkang sejauh 49 kilometer.
Sementara itu, AGM memiliki wilayah konsesi jauh lebih luas, mencapai 22.433 hektare yang tersebar di Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Tengah, Banjar, dan Hulu Sungai Selatan. AGM memproduksi batu bara dengan kualitas GAR 3.400, GAR 4.200, GAR 5.600, hingga GAR 6.400.
Rantai logistik AGM mencakup hauling sepanjang 35 kilometer dari stockpile Ida Manggala ke Lok Buntar Coal Terminal (LBCT), kemudian pengangkutan dengan tongkang sejauh 28,5 kilometer menuju Sungai Puting Coal Terminal (SPCT).
Dari sana, batu bara diangkut menggunakan tongkang besar sejauh 130 kilometer menuju laut lepas atau Taboneo Anchorage.
Meski kinerja keuangan tumbuh, volume produksi BSSR dan AGM dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan fluktuasi.
Total produksi kedua tambang tersebut tercatat 13,98 juta ton pada 2021, naik menjadi 15,53 juta ton pada 2022 dan melonjak menjadi 21,57 juta ton pada 2023.
Produksi kemudian mencapai 21,35 juta ton pada 2024 sebelum turun menjadi 17,84 juta ton pada 2025.
Pada kuartal I-2026, produksi mencapai 3,43 juta ton, terdiri dari 2,13 juta ton produksi AGM dan 1,30 juta ton dari BSSR.
Dari sisi penjualan, volume tercatat 13,67 juta ton pada 2021, meningkat menjadi 14,96 juta ton pada 2022 dan mencapai puncak 21,88 juta ton pada 2023.
Penjualan kemudian turun menjadi 20,79 juta ton pada 2024 dan 17,58 juta ton pada 2025.
Pada kuartal I-2026, penjualan batu bara BSSR dan AGM mencapai 3,79 juta ton, dengan kontribusi AGM sebesar 2,55 juta ton dan BSSR sebesar 1,24 juta ton. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.