Berdasarkan estimasi internal, penggunaan truk listrik mampu menghemat biaya bahan bakar hingga sekitar 20 persen dibandingkan truk berbahan bakar diesel.
Menariknya, bisnis truk listrik juga menawarkan margin yang lebih tinggi. Samuel memperkirakan margin laba kotor (gross profit margin/GPM) e-truck mencapai sekitar 20 persen, jauh di atas margin bus listrik yang berada di kisaran 8 persen. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi pendorong peningkatan profitabilitas VKTR dalam jangka panjang.
VKTR juga memiliki keunggulan melalui sinergi dengan grup usaha Bakrie. Perusahaan-perusahaan afiliasi seperti PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) berpotensi menjadi pengguna awal truk listrik VKTR.
Selain menciptakan permintaan awal, implementasi di lingkungan Grup Bakrie juga dapat memperkuat rekam jejak produk, meningkatkan kesiapan layanan purna jual, serta mendukung pemenuhan TKDN.
Di sisi pendanaan, VKTR berencana menggelar rights issue untuk mendukung pengembangan bisnis e-Mobility as a Service (e-MaaS) melalui anak usahanya, SEI. Model bisnis ini menawarkan penyewaan bus listrik dan truk listrik sehingga pelanggan tidak perlu mengeluarkan belanja modal besar di awal.