AALI
9450
ABBA
278
ABDA
6050
ABMM
2490
ACES
720
ACST
174
ACST-R
0
ADES
6125
ADHI
755
ADMF
8150
ADMG
174
ADRO
3150
AGAR
312
AGII
2340
AGRO
840
AGRO-R
0
AGRS
116
AHAP
95
AIMS
252
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1530
AKRA
1215
AKSI
268
ALDO
750
ALKA
288
ALMI
298
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/11 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
542.41
1.11%
+5.93
IHSG
7160.39
1.05%
+74.15
LQ45
1018.33
1.04%
+10.53
HSI
20082.43
2.41%
+471.59
N225
0.00
-100%
-27999.96
NYSE
0.00
-100%
-15264.79
Kurs
HKD/IDR 160
USD/IDR 14,765
Emas
848,754 / gram

Termasuk Aksi 'Obral' Big Cap, Ini Deretan Biang Kerok IHSG Anjlok 3 Persen

MARKET NEWS
Aldo Fernando - Riset
Senin, 04 Juli 2022 10:48 WIB
Aksi jual besar-besaran di saham big cap menjadi penekan IHSG pagi ini.
Termasuk Aksi 'Obral' Big Cap, Ini Deretan Biang Kerok IHSG Anjlok 3 Persen
Termasuk Aksi 'Obral' Big Cap, Ini Deretan Biang Kerok IHSG Anjlok 3 Persen

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ‘terjun bebas’ dan menembus level 6.500-an pada awal perdagangan Senin (7/4/2022). Aksi jual besar-besaran di saham big cap menjadi penekan IHSG pagi ini.

Tone global yang cenderung negatif soal kenaikan suku bunga di tengah inflasi yang meninggi di negara-negara utama--yang pada gilirannya memicu potensi stagflasi (inflasi tinggi dibarengi perlambatan ekonomi)--masih menghantui mood investor untuk berinvestasi di aset berisiko macam saham.

Selain itu, kasus Covid-19 sedikit banyak turut menambah kekhawatiran pelaku pasar saat ini.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito melaporkan data kenaikan kasus positif Covid-19 mingguan secara global. Kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia paling signifikan mencapai yaitu naik 620% dalam 28 hari.

Kemudian diikuti Bangladesh naik 500% dalam 22 hari, Inggris naik 380% dalam 23 hari, Italia naik 241% dalam 25 hari, Jerman naik 209% dalam 22 hari, Singapura naik 116% dalam 18 hari, Malaysia naik 49% dalam 19 hari, dan Amerika Serikat naik 14% dalam 8 hari.

Inflasi RI yang meninggi sejak 2017 juga turut menjadi perhatian investor.

Pada Jumat, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono melaporkan, bulan Juni 2022 terjadi inflasi tertinggi (year to year) sebesar 4,35% terhitung sejak Juni 2017.

"Tingkat inflasi tahun ke tahun, yakni Juni 2022 terhadap Juni 2021 adalah sebesar 4,35%. Ini inflasi tertinggi sejak tahun 2017, di mana pada saat Juni 2017 inflasi kita 4,37%," ujar Margo dalam rilis resmi statistik secara virtual di Jakarta, Jumat (1/7/2022). 

Sementara itu, inflasi secara month-to-month(mtm) tercatat sebesar 0,61%, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,42 pada Mei 2022 menjadi 111,09 di Juni 2022. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Juni 2022) adalah sebesar 3,19%.

Angka inflasi tahunan RI per Juni lebih tinggi dari konsensus ekonom yang dikutip dari Tradingeconomics yang memproyeksikan kenaikan inflasi ke angka 4,17%.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.28 WIB, IHSG anjlok 3,32% ke 6.570,59 dengan nilai transaksi Rp5,75 triliun dan volume perdagangan 10,91 miliar saham.

Hanya 55 saham yang naik, sedangkan 514 saham melemah dan 102 saham stagnan.

Pagi ini, IHSG menjebol dua level psikologis, yakni 6.700 dan 6.600-an.

Praktis, IHSG sudah anjlok 6,35% dalam sepekan dan dalam sebulan minus 7,41%.

 Bursa Asia sendiri bervariasi pagi ini, dengan Nikkei 225 (Tokyo) naik 0,58%, sedangkan Hang Seng Index (Hong Kong) ambles 0,51%.

Dana asing sendiri terus keluar dari bursa saham RI selama 11 hari beruntun per Jumat (1/7). Selama sepekan, nilai jual bersih (net sell) asing mencapai Rp3,05 triliun di pasar reguler.

Saham big cap, seperti PT Bank Arto Tbk (ARTO) anjlok hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 6,74%. Kemudian, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) ambles 6,49%.

Nama besar lainnya, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turun 3,93%, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melorot 5,41%, PT Elang Mahkota Teknologi  Tbk (EMTK) ambles 3,21%.

Selanjutnya, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) turun 4,31%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) merosot 3,62%, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turun 3,73%.

Tidak ketinggalan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 3,10%, PT Astra International Tbk (ASII) tergerus 3,07%, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 3,29%.

Apa Saja Sentimen Pekan Ini?

Pekan ini, investor di kawasan Asia-Pasifik akan mencermati sejumlah rilis penting, termasuk keputusan suku bunga oleh bank sentral Australia (RBA) pada Selasa waktu Indonesia.

 Khusus Indonesia, investor akan berfokus pada publikasi beberapa data makro RI, seperti statistik cadangan devisa (cadev) per Juli pada Kamis (7 Juli).

Pada Mei lalu, cadev Indonesia turun tipis menjadi USD135,6 miliar pada Mei 2022 dari USD135,7 pada bulan sebelumnya. Ini merupakan angka terendah sejak November 2020.

Selain itu, pada Kamis-Jumat juga pelaku pasar akan menilik isi dari pertemuan para menteri luar negeri dalam forum G20 Foreign Ministers Meeting yang digelar di Bali.

Pada Jumat, investor pasar saham RI juga akan memerhatikan data indeks keyakinan konsumen RI per Juni.

Proyeksi ekonom yang dikutip dari Tradingeconomics menyebutkan, indeks keyakinan konsumen RI akan turun ke kisaran 127,2 setelah melonjak ke level tertinggi di 128,9 pada bulan sebelumnya.

Dari kiblat pasar modal global, Amerika Serikat (AS), investor juga akan banyak menggali sejumlah petunjuk.

Pada Rabu, akan ada data pembukaan lapangan kerja AS (JOLTS) per Mei yang diproyeksikan akan mencapai 11,05 juta atau naik dari bulan sebelumnya yang sebesar 11,4 juta.

Data sejenis, kali ini nonfarm payroll (NFP) dan tingkat pengangguran yang akan dirilis Jumat waktu RI, juga akan menjadi data yang disimak investor.

Secara gampang, NFP mengukur perubahan jumlah orang yang bekerja selama bulan sebelumnya, kecuali pekerja di bidang pertanian.

Jika angka NFP naik, kenaikan tersebut mengindikasikan bahwa ekonomi sedang tumbuh.

Mengutip Tradingeconomics, ekonom memperkirakan 270.000 pekerjaan bertambah selama Juni, menciut dari 390.000 pada bulan sebelumnya. Kemudian, tingkat pengangguran diperkirakan akan tetap stabil di 3,6%.

Selain data di atas, investor juga akan menunggu risalah rapat bank sentral AS, The Fed, alias FOMC minutes pada Kamis waktu Indonesia.

Laporan tersebut berguna untuk menggali petunjuk soal bagaimana Jerome Powell cs mengambil langkah ke depan terkait kenaikan suku bunga di tengah pasar masih khawatir potensi resesi.

The Fed sendiri diproyeksikan akan kembali menaikkan suku bunga 75 basis poin (bps) pada pertemuan bulan ini. (ADF)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD