Menurut Rully, persoalan yang kini menjadi perhatian pasar bukan lagi sekadar apakah The Fed akan menaikkan suku bunga, melainkan seberapa tinggi suku bunga terminal yang diperlukan.
Hal ini sejalan dengan perubahan cara pasar membaca fungsi reaksi The Fed di bawah kepemimpinan Warsh. Perekonomian AS masih dinilai cukup tangguh, ditopang konsumsi dan investasi bisnis yang solid. Di sisi lain, kondisi keuangan dinilai belum cukup ketat.
Dengan kondisi tersebut, ruang untuk pengetatan kebijakan masih terbuka apabila proses penurunan inflasi berjalan terlalu lambat. Pasar saat ini memperkirakan suku bunga terminal The Fed berada di kisaran 4,25-4,50 persen.
Rupiah Jadi Jalur Transmisi Pertama
Bagi Indonesia, tekanan perubahan ekspektasi kebijakan The Fed kemungkinan pertama kali terasa melalui nilai tukar rupiah.
Rully mencatat penguatan rupiah dari sekitar Rp18.000 per USD menjadi Rp17.800-Rp17.900 per USD sejak awal Agustus beriringan dengan turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan.