Namun, dengan kembali menguatnya ekspektasi pengetatan moneter AS, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat.
Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih memiliki sejumlah instrumen untuk meredam tekanan tersebut.
Intervensi di pasar valuta asing (valas) dan penyesuaian kembali strategi penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinilai akan menjadi lini pertahanan pertama.
Dalam skenario dasar, Rully masih menilai BI-Rate sebesar 5,75 persen sudah memadai. Namun, level 6 persen tetap menjadi kemungkinan apabila tekanan terhadap rupiah berlangsung lebih lama dan semakin persisten.
SBN Hadapi Ujian dari Likuiditas Domestik
Tekanan tidak hanya berpotensi terasa di pasar valas. Pasar surat berharga negara (SBN) juga menghadapi tantangan, meski sejauh ini relatif mampu bertahan.