sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Trump Tolak Respons Iran, Harga Minyak Bertahan di Atas USD100 

Market news editor Desi Angriani
11/05/2026 22:33 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak respons Iran, atas proposal perdamaian yang diajukan Washington.
Trump Tolak Respons Iran, Harga Minyak Bertahan di Atas USD100 (Foto: dok AP)
Trump Tolak Respons Iran, Harga Minyak Bertahan di Atas USD100 (Foto: dok AP)

IDXChannel - Harga minyak dunia bertahan di atas USD100 pada perdagangan Senin (11/5/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak respons Iran, atas proposal perdamaian yang diajukan Washington.

Pernyataan tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Melansir Investing, kontrak minyak Brent naik 2,6 persen menjadi USD103,87 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,5 persen ke level USD97,77 per barel.

Kenaikan ini terjadi setelah harga minyak pekan lalu sempat terkoreksi lebih dari 6 persen di tengah optimisme bahwa Washington dan Teheran akan mencapai kesepakatan sementara terkait stabilitas jalur pelayaran di Teluk Persia.

Namun, sentimen positif tersebut memudar setelah Trump menolak proposal balasan Iran terhadap kerangka perdamaian yang diajukan AS. Trump menyatakan dirinya tidak menyukai respons terbaru dari Teheran.

Dalam proposal awal, AS dilaporkan meminta Iran menghentikan aktivitas pengayaan uranium selama 20 tahun, memindahkan cadangan uranium berkadar tinggi, serta membongkar sejumlah fasilitas nuklir utama. Sebagai imbalannya, Washington menawarkan pelonggaran sanksi dan penghentian aksi militer.

Sebaliknya, Iran melalui mediator Pakistan meminta pencabutan sanksi ekonomi, penghentian kehadiran armada laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, serta pengakuan terhadap hak Iran untuk tetap menjalankan sebagian aktivitas nuklir.

Laporan The Wall Street Journal juga menyebut Iran menawarkan skema pengenceran sebagian uranium berkadar tinggi dan memindahkan sisanya ke negara ketiga.

Pelaku pasar kini masih menyoroti kondisi Strait of Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Jalur strategis tersebut masih banyak mengalami gangguan selama konflik berlangsung.

Lonjakan harga minyak yang berada jauh di atas level sebelum konflik memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Analis ING menilai, pasar minyak masih sangat sensitif terhadap perkembangan terkait Iran meski dibanjiri berbagai spekulasi dan dinamika negosiasi.

“Pasar mungkin mulai mengalami kelelahan terhadap derasnya arus berita dan tarik ulur negosiasi. Namun, harga minyak tetap sangat sensitif terhadap isu Iran, menunjukkan besarnya dampak gangguan pasokan di Teluk Persia,” tulis analis ING dalam risetnya.

Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada rencana kunjungan Trump ke China pekan ini untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Pertemuan tersebut diperkirakan membahas isu perdagangan, Taiwan, hingga konflik Iran.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement