Benjie menjelaskan bahwa performa solid ini tidak lepas dari transformasi mendalam di internal perusahaan.
“Kinerja kami sepanjang tahun menunjukkan bahwa momentum pemulihan yang telah kami bangun terus menguat. Langkah-langkah disiplin dan perubahan struktural yang kami terapkan telah memberikan dampak yang berkelanjutan, tercermin dari pertumbuhan dan peningkatan profitabilitas,” ungkap Benjie.
Meski biaya transformasi sempat menekan laba bruto operasi sebesar 60 basis poin menjadi 46,9 persen, namun secara keseluruhan margin laba sebelum pajak tetap naik menjadi 14,1 persen.
Dari sisi arus kas, Unilever mencatatkan performa yang sangat sehat dengan free cash flow sebesar Rp4,9 triliun, naik 1,7 kali lipat dibandingkan 2024.
Kesehatan finansial UNVR juga terlihat dari posisi neraca yang bersih dari pinjaman atau net zero debt. Benjie meyakini bahwa langkah-langkah yang diambil telah memosisikan perusahaan pada jalur yang tepat untuk pertumbuhan masa depan.