sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Usai MSCI, BREN-DSSA Anjlok Lagi setelah BEI Siap Coret Saham HSC dari IDX80

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
22/04/2026 10:18 WIB
Saham Grup Barito PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan Grup Sinarmas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) kembali jatuh pada Rabu (22/4/2026).
Usai MSCI, BREN-DSSA Anjlok Lagi setelah BEI Siap Coret Saham HSC dari IDX80. (Foto: Freepik)
Usai MSCI, BREN-DSSA Anjlok Lagi setelah BEI Siap Coret Saham HSC dari IDX80. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Saham Grup Barito PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan Grup Sinarmas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) kembali jatuh pada Rabu (22/4/2026) seiring langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) yang bersiap mencoret saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari universe untuk indeks IDX80.

Menurut data BEI, pukul 10.02 WIB, saham BREN anjlok 7,53 persen ke level Rp5.500 per unit, dengan nilai transaksi Rp52,83 miliar dan volume perdagangan 9,52 juta saham.

Setali tiga uang, saham DSSA ambles 8,99 persen menjadi Rp2.530 per unit. Nilai transaksi tercatat Rp72,10 miliar dan volume 28,14 juta saham.

Analis Stockbit menulis, pada Rabu (22/4), kebijakan BEI berpotensi memberi tekanan tambahan pada saham-saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi.

“Kami menilai bahwa BREN dan DSSA, saham dalam daftar HSC yang saat ini menjadi konstituen LQ45 dan IDX80, berpotensi keluar pada Mei 2026, yang dapat memicu outflow dari passive funds,” tulis Stockbit.

Di samping itu, Stockbit juga menyoroti dampak lebih luas terhadap saham lain yang berada dalam daftar HSC.

“Selain kedua saham tersebut, 7 saham lain (ROCK, IFSH, SOTS, AGII, MGLV, LUCY, dan RLCO) dalam daftar HSC juga akan terhadang untuk masuk indeks mayor selama masih tercatat di daftar HSC,” demikian kata Stockbit.

Kemarin, saham BREN dan DSSA sama-sama tersungkur hingga minus 9,47 persen dan 14,98 persen seiring langkah pengelola indeks global MSCI yang bersiap mencoret emiten yang masuk daftar HSC dari indeks globalnya.

Diwartakan sebelumnya, BEI mengubah kriteria evaluasi konstituen indeks IDX30, LQ45, dan IDX80 dengan penekanan baru pada saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC).

Kebijakan ini menandai langkah tegas BEI dalam meningkatkan kualitas dan representasi indeks terhadap kondisi pasar yang lebih riil.

Dalam pengumuman terbarunya, Senin (21/4/2026), BEI secara eksplisit memasukkan kriteria bahwa saham yang tergolong HSC tidak lagi dapat masuk dalam universe indeks, khususnya IDX80.

Artinya, saham dengan tingkat kepemilikan terpusat yang tinggi berpotensi tersingkir dari indeks-indeks utama, meskipun memiliki kapitalisasi pasar besar atau nilai transaksi tinggi.

Perubahan ini juga diiringi penyesuaian syarat free float. BEI kini menetapkan bahwa saham harus memiliki rasio free float minimal 10 persen atau mengikuti ketentuan terbaru dalam Peraturan I-A, mana yang lebih tinggi.

BEI juga melonggarkan ketentuan aktivitas perdagangan, dari sebelumnya tidak pernah disuspensi dan wajib selalu ditransaksikan setiap hari dalam enam bulan terakhir menjadi cukup dengan toleransi maksimal satu hari tidak ditransaksikan dalam periode tersebut.

Penyesuaian ini akan mulai diterapkan pada evaluasi mayor April 2026 dan efektif berlaku pada hari bursa pertama Mei 2026. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement