Menurut analis, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar telah memprice-in skenario yang jauh lebih buruk dibandingkan kondisi fundamental saat ini.
Jika mengacu pada pola historis, IHSG berpotensi mencatat kenaikan rata-rata 16,5 persen dalam tiga bulan, 25,3 persen dalam enam bulan, dan 58,5 persen dalam 12 bulan setelah mencapai titik terendah siklus koreksi.
Menanti Keputusan MSCI dan FTSE
Meski demikian, pasar masih mencermati sejumlah faktor yang berpotensi menjadi sumber tekanan, terutama hasil tinjauan indeks global oleh MSCI dan FTSE.
Tinjauan MSCI pada Februari dan Mei 2026 telah memicu keluarnya tujuh saham Indonesia dari indeks standar, yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Akibatnya, bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun menjadi sekitar 0,45-0,50 persen dari sebelumnya sekitar 0,75 persen. Arus keluar dana asing yang dipicu rebalancing MSCI diperkirakan mencapai sekitar US$1,5 miliar pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.