sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Dibuka Melemah di Tengah Data Inflasi AS

Market news editor Rahmat Fiansyah
26/08/2026 21:50 WIB
Bursa saham AS dibuka melemah pada perdagangan Rabu (26/8/2026) waktu setempat, setelah data inflasi menunjukkan tekanan harga masih tinggi.
Bursa saham AS dibuka melemah pada perdagangan Rabu (26/8/2026) waktu setempat, setelah data inflasi menunjukkan tekanan harga masih tinggi. (Foto: Freepik)
Bursa saham AS dibuka melemah pada perdagangan Rabu (26/8/2026) waktu setempat, setelah data inflasi menunjukkan tekanan harga masih tinggi. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (26/8/2026) waktu setempat, setelah data inflasi menunjukkan tekanan harga masih tinggi. Investor juga mencermati penurunan harga minyak serta menantikan sinyal kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam simposium Jackson Hole.

Seluruh indeks utama Wall Street bergerak sedikit lebih rendah pada perdagangan pagi. S&P 500 bergerak melemah 0,06 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,21 persen dan Nasdaq terkoreksi 0,25 persen.

Tekanan datang setelah Departemen Perdagangan AS melaporkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE), yang menjadi indikator inflasi pilihan The Fed, naik 3,7 persen pada Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut secara umum sesuai dengan ekspektasi analis, tetapi tetap jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2 persen. Kondisi ini membuat investor masih mencermati kemungkinan perubahan kebijakan suku bunga AS, terutama menjelang dimulainya simposium tahunan Jackson Hole pada Kamis (27/8/2026).

“Inflasi masih terlalu tinggi untuk membuat investor nyaman, dan investor akan mencermati apakah Ketua The Fed Kevin Warsh menggunakan pidatonya di Jackson Hole pada Jumat untuk membahas bagaimana pembuat kebijakan berencana mengembalikan inflasi menuju target jangka panjang,” kata Analis eToro, Bret Kenwell dikutip dari AFP.

Di sisi lain, harga minyak mentah turun tajam pada pekan ini seiring Iran dan Oman mendekati kesepakatan untuk membuka koridor pelayaran sementara di Selat Hormuz. Harga minyak sempat anjlok lebih dari 3 persen pada Rabu sebelum kembali menguat, dengan minyak Brent masih berada jauh di bawah level USD90 per barel.

Penurunan harga minyak menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi prospek inflasi sekaligus kinerja perusahaan energi. Di tengah perkembangan tersebut, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menyatakan Washington mengambil langkah tegas terhadap Iran dan mitra dagangnya, meski AS sejauh ini belum menerapkan sejumlah langkah yang telah diumumkan.

Investor juga tengah menantikan laporan keuangan Nvidia setelah penutupan perdagangan. Perusahaan produsen cip kecerdasan artifisial (AI) tersebut menjadi salah satu indikator utama bagi investor untuk menilai keberlanjutan pertumbuhan sektor AI yang telah mendorong pasar saham ke level rekor dalam dua tahun terakhir.

Laporan Nvidia datang di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai besarnya investasi pada perangkat keras dan perangkat lunak AI serta kapan investasi tersebut akan menghasilkan keuntungan yang signifikan. 

“Angka kuartal kedua itu sendiri mungkin tidak terlalu penting dibandingkan dengan apa yang disampaikan manajemen mengenai prospek kuartal berikutnya,” ujar Analis Pasar IG, Axel Rudolph.

Investor akan mencermati proyeksi Nvidia untuk kuartal ketiga karena ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan perusahaan sudah sangat tinggi. Saham Nvidia tercatat turun lebih dari 0,5 persen dalam perdagangan Rabu.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement