sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Dibuka Melemah Terdampak Harga Minyak, Sentimen Geopolitik Kembali Meningkat

Market news editor Nia Deviyana
21/05/2026 22:08 WIB
Harga minyak mentah Brent naik 2,2 persen menjadi USD107,32 per barel.
Wall Street Dibuka Melemah Terdampak Harga Minyak, Sentimen Geopolitik Kembali Meningkat. Foto: AP.
Wall Street Dibuka Melemah Terdampak Harga Minyak, Sentimen Geopolitik Kembali Meningkat. Foto: AP.

IDXChannel - Indeks utama Wall Street melemah pada Kamis (21/5/2026) seiring melonjaknya harga minyak setelah laporan Reuters menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, memerintahkan agar uranium yang diperkaya hingga mendekati tingkat senjata tidak dikirim ke luar negeri. 

Hal ini meredupkan harapan kemajuan dalam pembicaraan antara Washington dan Teheran.

Melansir Reuters, indeks Dow Jones turun 24,51 poin atau 0,05 persen menjadi 49.987,34. S&P 500 melemah 22,83 poin 0,30 persen menjadi 7.410,68, dan Nasdaq Composite turun 119,67 poin atau 0,46 persen menjadi 26.150,69.

Harga minyak mentah Brent naik 2,2 persen menjadi USD107,32 per barel.

Sebelumnya, harga minyak sempat melanjutkan penurunan di awal sesi didorong optimisme upaya diplomatik dapat meredakan ketegangan. Namun, laporan Reuters tersebut menunjukkan bahwa Iran memperkeras posisinya terhadap salah satu tuntutan utama Washington, sehingga memicu kembali kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak global.

Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,609 persen, melanjutkan tren kenaikan setelah sempat menghentikan reli tiga hari pada Rabu. Minimnya kemajuan berarti dalam upaya membuka kembali selat tersebut menambah kekhawatiran inflasi, mendorong kenaikan yield dan menekan pasar saham.

Investor juga mencermati laporan kinerja perusahaan terbaru. Saham Walmart anjlok 7,5 persen setelah peritel terbesar dunia itu mempertahankan target tahunan dan memproyeksikan laba kuartal kedua di bawah ekspektasi, di tengah kondisi ekonomi AS yang tertekan.

“Panduan dari Walmart itulah yang membuat investor khawatir bahwa dampak harga minyak tinggi dan inflasi mulai terasa pada ekspektasi sektor ritel. Itu yang menekan saham hari ini,” kata kepala strategi investasi di CFRA Research, Sam Stovall.

Saham Nvidia, perusahaan paling bernilai di dunia, turun tipis 0,6 persen meskipun memberikan proyeksi pendapatan kuartal kedua yang kuat serta program pembelian kembali saham senilai USD80 miliar, namun hal itu tidak terlalu mengesankan investor.

Sahamnya telah naik hampir 20 persen sepanjang tahun ini, tetapi laju pertumbuhannya mulai melambat karena investor menilai Nvidia akan menghadapi persaingan yang lebih ketat, baik dari Big Tech maupun rival chip seperti Intel dan AMD.

Tujuh dari 11 sektor utama di S&P 500 berada di zona negatif, dengan sektor consumer staples memimpin penurunan sebesar 2,3 persen. 

Investor juga memantau SpaceX setelah perusahaan tersebut mengungkap dokumen IPO pada Rabu, memberikan gambaran awal terkait seberapa besar belanja miliarder Elon Musk untuk AI, seiring upayanya mengubah perusahaan roket itu menjadi bisnis yang lebih luas berbasis kecerdasan buatan.

Dari sisi ekonomi, jumlah warga AS yang mengajukan klaim pengangguran baru turun pekan lalu, menunjukkan pasar tenaga kerja yang tetap kuat dan memberi ruang bagi Federal Reserve untuk tetap fokus pada risiko inflasi.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement