Tekanan terbesar datang dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar. Saham Nvidia melemah meski pemerintah AS memberikan lampu hijau atas ekspor chip ke China, di tengah laporan potensi pembatasan lanjutan. Saham Tesla, Broadcom, dan Oracle juga mencatatkan penurunan signifikan.
Dari sektor perbankan, Bank of America dan Wells Fargo membukukan lonjakan laba berkat aktivitas perdagangan yang solid. Namun, saham keduanya justru turun, sejalan dengan penurunan saham Citigroup, memperpanjang sentimen negatif yang sebelumnya dipicu laporan kinerja JPMorgan Chase.
Dari sisi makroekonomi, investor mencermati data inflasi produsen yang melengkapi rilis inflasi konsumen sebelumnya. Serangkaian data tersebut menunjukkan tekanan harga masih bertahan, memperkuat ekspektasi bank sentral AS akan menahan suku bunga dalam waktu dekat, meski peluang dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini masih terbuka.
Di sisi lain, harga logam mulia melanjutkan reli tajam. Emas dan perak mencetak rekor tertinggi baru, dengan harga perak menembus level USD90. Kenaikan ini turut didorong meningkatnya ketegangan geopolitik dan tekanan politik terhadap bank sentral AS. Presiden AS Donald Trump menegaskan jika Mahkamah Agung membatasi kewenangannya dalam penetapan tarif, maka situasinya akan sangat buruk.
(Rahmat Fiansyah)