IDXChannel - Tiga indeks utama Wall Street dibuka melemah pada Selasa (8/9/2026) dipicu kembali memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak ke level tertinggi sejak akhir Juli. Sementara itu, pasar menanti data inflasi yang akan dirilis akhir pekan ini.
Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 451,93 poin atau 0,85 persen menjadi 52.962,32. S&P 500 turun 29,15 poin atau 0,38 persen menjadi 7.689,45, sedangkan Nasdaq Composite turun 111,18 poin atau 0,42 persen menjadi 26.395,81.
Pekan perdagangan yang lebih singkat setelah libur Labor Day akan didominasi oleh laporan Consumer Price Index (CPI) yang akan dirilis pada Jumat dan data Producer Price Index (PPI) pada Kamis.
Sejumlah investor menilai data inflasi akan memiliki pengaruh lebih besar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed, mengingat fokus Ketua Fed Kevin Warsh untuk menekan inflasi.
“Tampaknya ini masih menjadi sesuatu yang cukup sulit diprediksi. Warsh tidak semudah itu dibaca seperti pendahulunya, Jerome Powell,” kata head trader di U.S. Global Investors, Michael Matousek.
Dia menambahkan bahwa jika harga minyak terus naik, volatilitas pasar dapat berlanjut.
Para trader kini melihat probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan ini sebesar 58,4 persen, berdasarkan CME FedWatch.
Memasuki bulan ketujuh, perang AS-Iran masih menjadi beban bagi pasar saham. Ketegangan kembali meningkat di kawasan tersebut, sehingga menambah risiko meluasnya konflik.
Harga minyak mentah Brent mendekati USD100 per barel dan berada di level tertinggi sejak akhir Juli, setelah kelompok Houthi yang didukung Teheran menyerang fasilitas energi dan sejumlah kota di Arab Saudi, yang merupakan sekutu AS, pada Selasa.
Lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz melambat, sementara Iran mengancam akan melakukan pembalasan jika AS melancarkan serangan baru.
Kenaikan harga minyak membuat prospek inflasi menjadi semakin sulit diprediksi,” kata senior financial market analyst di Capital.com, Kyle Rodda.
Sektor energi menjadi sektor dengan kinerja terbaik di S&P 500, naik 1,49 persen. Saham Marathon Petroleum naik 1,85 persen, sementara Occidental Petroleum menguat 2,07 persen.
Sektor utilitas dan material dasar juga masing-masing naik 0,7 persen dan 0,1 persen.
Kenaikan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS yang dianggap sebagai aset bebas risiko dalam beberapa pekan terakhir membuat saham menjadi kurang menarik bagi investor, karena mereka harus mengambil risiko lebih besar untuk berinvestasi di pasar saham.
Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 0,42 basis poin menjadi 4,7882 persen pada Selasa.
Saham perusahaan pembuat chip menguat, didorong optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Intel melonjak 5,99 persen, sedangkan Qualcomm naik 5,14 persen setelah perusahaan tersebut mencapai kesepakatan senilai USD4 miliar dengan Amazon untuk mengembangkan chip AI khusus.
Di NYSE, jumlah saham yang mengalami penurunan lebih banyak daripada saham yang naik dengan rasio 1,41 banding 1. Di Nasdaq, rasionya mencapai 1,62 banding 1.
S&P 500 mencatat tiga saham yang mencapai level tertinggi dalam 52 minggu terakhir dan empat saham yang mencapai level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat 27 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 57 saham yang mencapai level terendah baru.
(NIA DEVIYANA)