IDXChannel – Setelah membuka tahun 2026 dengan catatan positif, pasar saham Amerika Serikat alias Wall Street bersiap menghadapi potensi turbulensi pada pekan ini.
Investor kini mengalihkan fokus pada rilis data inflasi terbaru, dimulainya musim laporan keuangan emiten, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Mengutip Investing, indeks S&P 500 telah menguat 1 persen sepanjang Januari ini, melanjutkan tren kenaikan dua digit selama tiga tahun berturut-turut hingga akhir 2025.
Meski pasar terlihat solid, sejumlah analis memperingatkan adanya risiko yang mungkin belum sepenuhnya diantisipasi oleh pelaku pasar.
"Secara keseluruhan untuk tahun ini, fondasi pasar memang kokoh," ujar kepala strategi investasi di State Street Investment Management, Michael Arone.
“Namun, saat kita memulai Januari, pasar mungkin kurang menghargai beberapa peristiwa di depan mata yang kemungkinan besar dapat memicu volatilitas lebih tinggi. Suasananya terasa sedikit terlalu tenang,” imbuhnya.
Pekan ini akan menjadi awal dari musim laporan keuangan kuartal keempat (Q4). Kinerja laba perusahaan menjadi sumber optimisme utama, di mana analis memperkirakan laba perusahaan S&P 500 tumbuh 13 persen pada 2025 dan diproyeksikan melonjak lebih dari 15 persen pada 2026.
Beberapa bank besar yang dijadwalkan merilis laporan keuangan antara lain, JPMorgan Chase pada Selasa serta Citigroup, Bank of America, dan Goldman Sachs yang menyusul di akhir pekan.
Laba sektor keuangan diperkirakan tumbuh 6,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Analis akan mencermati data gagal bayar kartu kredit untuk mengukur kesehatan daya beli konsumen, yang mencakup dua pertiga aktivitas ekonomi AS.
Selasa besok juga akan menjadi momen krusial dengan dirilisnya Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Desember. Data ini sangat dinantikan setelah aliran data ekonomi sempat terganggu akibat penutupan pemerintahan (government shutdown) selama 43 hari pada akhir tahun lalu.
Data inflasi ini akan menjadi indikator kunci bagi Federal Reserve (The Fed) dalam rapat kebijakan moneter akhir Januari mendatang. Meski The Fed telah menurunkan suku bunga dalam tiga pertemuan terakhir di 2025, investor masih ragu mengenai kapan pemangkasan selanjutnya akan dilakukan.
Di tengah reli pasar, ketegangan geopolitik mulai membayangi. Setelah operasi militer AS di Venezuela, muncul wacana dari pemerintahan Presiden Donald Trump mengenai potensi akuisisi Greenland, termasuk kemungkinan penggunaan kekuatan militer.
Meskipun pasar saham sejauh ini tampak "kebal" terhadap isu tersebut, emas sebagai aset aman (safe-haven) mulai mengalami peningkatan permintaan.
(Febrina Ratna Iskana)