IDXChannel - Saham-saham di Wall Street merosot pada Selasa (24/3/2026). Investor masih fokus pada konflik di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang telah berlangsung hampir sebulan.
Pada pukul 10:08 ET (14:08 GMT), indeks acuan S&P 500 turun 0,4 persen menjadi 6.548,12 poin, NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,7 persen menjadi 21.794,64 poin, dan Dow Jones Industrial Average yang didominasi saham blue-chip turun 0,4 persen menjadi 46.026,55 poin.
Rata-rata utama Wall Street mencatatkan kenaikan yang kuat pada sesi sebelumnya. Hal itu didukung oleh pengumuman Presiden Donald Trump tentang penundaan sementara serangan AS yang akan datang terhadap pembangkit listrik Iran setelah percakapan yang ia gambarkan sebagai "sangat kuat."
Namun, ketua parlemen Iran menolak klaim tersebut. Bahkan menuduh Trump melontarkan komentar itu untuk membantu meredakan pasar keuangan yang bergejolak.
“Pasar berada di ambang optimisme yang rapuh dan meningkatnya risiko geopolitik. Timur Tengah tetap menjadi pendorong utama, dengan harga minyak sangat sensitif terhadap gangguan pasokan apa pun. Karena ketegangan terus berlanjut, volatilitas kemungkinan akan tetap tinggi, membuat investor tetap berhati-hati,” kata Analis Pasar Senior di FXTM, Lukman Otunuga, kepada Investing.com.
Analis di Vital Knowledge menambahkan bahwa meskipun investor tetap skeptis bahwa perang akan segera berakhir, reli pada indeks acuan S&P 500 mungkin masih memiliki potensi kenaikan lebih lanjut.
Harga Minyak Kembali Melambung
Harga minyak, yang telah menjadi fokus utama pasar sejak pecahnya perang pada akhir Februari, sekali lagi naik mendekati USD100 per barel. Kontrak berjangka yang berakhir pada Mei untuk minyak mentah Brent, patokan minyak global, terakhir naik 3,3 persen menjadi USD98,95 per barel.
Pihak berwenang di Israel mengatakan bahwa rentetan rudal dari Iran menghantam Tel Aviv dan bagian lain negara itu, tulis New York Times.
Sementara itu, Wall Street Journal melaporkan bahwa Kuwait dan Arab Saudi telah menjadi sasaran serangan drone dan rudal, sementara Israel mengatakan telah menyerang target yang terkait dengan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.
Selat Hormuz, jalur air vital di selatan Iran yang dilalui seperlima minyak dunia, hampir sepenuhnya tertutup untuk lalu lintas kapal tanker. Penutupan efektif selat tersebut telah menjadi titik konflik utama dalam serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran, yang menghambat aliran pasokan penting ke negara-negara di seluruh dunia, terutama importir energi besar di Asia.
Baik Arab Saudi maupun Uni Emirat Arab, yang ekonominya sebagian besar bergantung pada pengiriman energi melalui Selat Hormuz, kini mulai condong untuk memasuki perang melawan Iran, lapor WSJ.
Mengutip sumber, Arab Saudi mengizinkan pasukan AS menggunakan pangkalan udara di sisi barat Semenanjung Arab, surat kabar tersebut juga menulis Putra Mahkota Mohammed bin Salman sangat ingin dan hampir memutuskan untuk bergabung dalam serangan tersebut. UEA juga mulai menindak aset-aset milik Iran.