“Potensi kuantitas yang luar biasa ini dapat menjadi bumerang jika terjadi skill mismatch atau ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki oleh lulusan kita dengan kebutuhan yang riil pasar kerja modern saat ini,” katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemnaker memperkuat pelatihan vokasi agar lebih adaptif terhadap perubahan teknologi. Kurikulum pelatihan kini tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis tradisional, tetapi juga mengintegrasikan literasi AI, analisis data, dan otomatisasi.
Di saat yang sama, Afriansyah menekankan pentingnya keterampilan manusia sebagai pelengkap kemampuan teknologi. Kemampuan berpikir kritis, etika kerja, kemampuan beradaptasi, dan kepemimpinan tetap penting dalam menghadapi perubahan dunia kerja.
“Kunci utama agar angkatan kerja kita tidak tergilas oleh perubahan teknologi adalah dengan memegang teguh prinsip pembelajaran sepanjang hayat atau lifelong learning,” tegasnya.
Untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat tersebut, Kemnaker menerapkan strategi 3R, yakni upskilling untuk meningkatkan kualitas keahlian yang telah dimiliki, reskilling untuk mempersiapkan pekerja berpindah ke sektor baru, serta cross-skilling untuk membangun kombinasi keterampilan lintas bidang.