"Ketika harga turun, orang malah ragu dan FOBO. Bingung mikir, Jual enggak ya? Ini harga entar naik lagi enggak ya?" kata Yos.
Untuk membuktikan mengapa emas adalah instrumen investasi jangka panjang yang tangguh, Yos memberikan analogi terkait nilai tukar emas lintas zaman.
“Ingat bahwa emas 1 kilogram berpuluh tahun yang lalu, nilainya itu setara dengan motor Honda Astrea. Tapi dengan emas yang sama, beratnya tetap 1 kilogram, sekarang nilainya bisa untuk membeli mobil," kata dia.
Yos memaparkan, sekitar 20 tahun yang lalu, harga emas hanya berada di kisaran Rp90 ribu per gram. Namun, kini harga emas telah melonjak tajam.
Menurutnya, emas memang instrumen jangka panjang yang luar biasa untuk mengalahkan inflasi, tetapi emas bukanlah instrumen untuk trading harian.
"Memang benar tidak ada harga yang naik terus-menerus tanpa adanya fluktuasi naik-turun. Namun, jika ditarik dalam garis waktu yang panjang, tren harga emas selalu menunjukkan grafik yang menanjak. Jadi, emas itu jangan dilihat sebagai trading harian. Lihatlah tren jangka panjangnya,” ujar Yos.
(Dhera Arizona)