Ia menjelaskan ada tata cara tersendiri dalam proses pencucian rupang. Proses tersebut harus dimulai dengan ritual doa sebagai bentuk permohonan izin kepada para dewa-dewi. Selain itu, air yang digunakan juga haruslah air bunga.
“Kalau untuk memandikan rupang itu, kita ada yang namanya harus ada ritual dulu. Nah, itu adalah kita berdoa dulu seperti meminta izin kepada dewa-dewi yang ada di sini. Kemudian baru kita memandikannya dengan air bunga,” ucap dia.
Hendro menegaskan bahwa penggunaan bunga tidak ada hubungannya dengan hal mistis. Air bunga digunakan agar memberikan sentuhan wewangian yang alami kepada rupang.
“Bukan semata-mata bunga harus yang macam-macam atau dikaitkan dengan hal mistis, bukan. Kita supaya patung dewa-dewinya ini satu biar supaya bersih dan juga yang kedua supaya dia wangi seperti itu,” tegas Hendro.
Setelah dimandikan dengan air bunga, setiap rupang kemudian dilap hingga kering menggunakan kain bersih sebelum diletakkan kembali ke altar. Hal tersebut membuat rupang lebih cerah dan memudahkan umat untuk memandang sosok dewa-dewi yang mereka muliakan.