Ia menegaskan Indonesia tidak boleh hanya dipandang sebagai pasar potensial dengan populasi 280 juta jiwa, melainkan harus mampu memosisikan diri sebagai mesin penggerak dan eksportir produk digital ke tingkat global.
"Kita jangan hanya melihat Indonesia sebagai pasar, tetapi Indonesia sebagai pencipta, sebagai engine powerhouse. Dunia membutuhkan produk-produk yang lahir dari Indonesia," tegasnya.
Untuk mendukung kesiapan tenaga kerja lokal di era digital, pemerintah mengapresiasi langkah kolaborasi penyediaan program pelatihan yang mencakup bidang analisis data, manajemen proyek, keamanan siber, hingga kecerdasan buatan.
Integrasi pemahaman teknologi tersebut diharapkan dapat membantu para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kreator lokal dalam mengukur imbal hasil investasi (return on investment/ROI), memperkuat pertahanan data, dan mengelola skala bisnis secara lebih disiplin di pasar internasional.
(Sheqilla Sukma)