sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Ada Dugaan KTP Penerima Basos Digunakan Orang Lain untuk Judol, Ini Penjelasan Mensos

News editor Binti Mufarida
02/09/2026 16:52 WIB
Mensos membeberkan ada fenomena KTP penerima bansos dimanfaatkan pihak lain untuk berbagai kepentingan.
Ada Dugaan KTP Penerima Basos Digunakan Orang Lain untuk Judol, Ini Penjelasan Mensos. (Foto: MNC Media)
Ada Dugaan KTP Penerima Basos Digunakan Orang Lain untuk Judol, Ini Penjelasan Mensos. (Foto: MNC Media)

IDXChannel—Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengungkap lebih dari 1,4 juta penerima bantuan sosial terindikasi bermain judi online (judol). Namun, dia memastikan kementerian masih mendalami temuan tersebut karena terdapat dugaan KTP digunakan oleh orang lain.

Dia mengatakan, temuan tersebut tidak serta-merta menunjukkan penerima bansos yang bersangkutan benar-benar bermain judol. Sebab, ada fenomena KTP penerima bansos dimanfaatkan pihak lain untuk berbagai kepentingan.

“Kita punya mitigasinya. Kita siapkan sistemnya. Kedua, menyangkut judol, jadi ada 1,4 juta lebih penerima bansos terindikasi main judol. Sekarang kita dalami itu, ada fenomena KTP penerima bansos dimanfaatkan dan digunakan orang lain untuk membuat akun, untuk membeli motor, atau untuk membeli aset-aset yang lain termasuk apa untuk langganan listrik,” kata Gus Ipul kepada awak media di Kantor Kemensos, Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut sedang diverifikasi pemerintah. Sebab, penggunaan KTP oleh orang lain berpotensi membuat warga yang sebenarnya memenuhi syarat bansos justru terkena tanda atau indikasi terkait judol.

“Jadi ini sedang kita pastikan semua, jadi kalau ada misalnya keluarga yang tidak mampu tertolak ya karena KTP-nya dimanfaatkan oleh orang lain,” ujarnya.

Gus Ipul juga menyebut dugaan penyalahgunaan identitas tersebut tidak hanya dilakukan oleh orang di luar keluarga. Dalam sejumlah kasus, penggunaan identitas bisa terjadi karena aktivitas anggota keluarga penerima bansos.

“Kemudian yang kedua, juga ada fenomena di mana yang main judol itu bukan orang tuanya tapi anaknya atau keluarganya. Ini yang sedang kita dalami terus,” katanya.

Dia mencontohkan, kondisi tersebut dapat berdampak pada penerima bansos yang sebenarnya masuk kategori tidak mampu.

“Jadi kalau ada lansia kemudian mungkin keluarga yang sangat tidak mampu tapi tidak menerima bansos karena terindikasi judol itu mungkin dimanfaatkan oleh keluarganya atau oleh orang lain. Untuk yang seperti ini sedang kita perbaiki, sedang kita dalami dan tentu jika memenuhi kriteria bansos-nya akan tetap kita salurkan,” tutur Gus Ipul.

Gus Ipul menegaskan pemerintah masih melakukan pendalaman terhadap data penerima bansos yang terindikasi judol. Verifikasi diperlukan untuk memastikan apakah aktivitas tersebut benar dilakukan oleh penerima bansos atau identitasnya digunakan pihak lain.

“Ya, nanti kita bisa pilah ya, tidak BPS tapi kita bisa memilah nanti. Kan kita ada data itu ya nanti saya kasih tahu ya datanya itu misalnya ada peralihan ya, ada sekian juta yang tidak lagi menerima Bansos karena sebab apa itu,” ujar Gus Ipul.

“Sebab terindikasi judol, yang kedua sebab apa dia naik kelas mandiri, naik kelas karena intervensi pemerintah, ada semua itu data-datanya lengkap gitu. Jadi kita punya data yang cukup lengkap mana yang naik kelas mana yang turun kelas, ya,” pungkasnya. 


(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement