"Jadi gimana? Back to natural. Gimana caranya? Bikin main loop dengan lipat-lipat-lipat. Jadi bagaimana ini si gelombang yang begitu besar kita pecahkan itu, supaya habis. Jadi kita pasang mangrove, sebagai buffer itu ya,” ucap dia.
Selain itu, faktor keselamatan penduduk menjadi prioritas melalui langkah relokasi yang terukur. Ia mengusulkan, agar penduduk yang tinggal terlalu dekat dengan bibir pantai akan dipindahkan ke area yang lebih tinggi dan berjarak setidaknya 500 meter dari pantai, guna meminimalkan resiko terjangan tsunami atau rob.
"Kita pindahkan penduduk itu 500 meter, jangan dekat pantai. Ketika mereka dipindahkan, naikkan tinggi mereka. Tempat tinggalnya itu. Sudah jauh dari pantai, kita naikkan,” ungkap Eddy.
Eddy menilai, pendekatan alami ini lebih masuk akal mengingat tidak ada teknologi yang mampu menghentikan mencairnya es di kutub secara instan. Pembangunan yang terlalu masif, seperti deretan hotel di wilayah Semarang, justru memperparah kondisi karena penyedotan air tanah yang berlebihan dan penurunan muka tanah (subsidence) yang sudah mencapai titik mengkhawatirkan.
"Teknologi mana yang bisa mencegah supaya es di kutub tidak mencair? Enggak bisa. Artinya, back to natural. Itu teknologi tidak buang gede, lebih natural, lebih realistis. Karena bayangkan ya, dari mulai Pantura itu hotel-hotel dominan terutama di Semarang. Daya untuk menyedot dan subsidensinya itu sudah no limit,” kata dia.