Berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, bentuk dasar tubuh gunung dan kawah utamanya relatif tidak menunjukkan perubahan signifikan yang jelas dibandingkan pemetaan sebelumnya. Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 saat ini masih relatif kecil.
"Tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami, meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi tetap dipantau secara intensif," katanya.
Di sisi lain, ia menyampaikan hal yang perlu diwaspadai saat ini adalah lontaran materi pijar hingga abu vulkanik. Oleh karenanya, warga diminta untuk tidak beraktivitas pada radius yang telah ditentukan.
"Lontaran material ini dapat merusak peralatan yang berada dekat dengan pusat aktivitas dan membahayakan siapa pun yang masuk zona terlarang," katanya.
(Nur Ichsan Yuniarto)